Oleh: Ahmad Soim | 13 Juli 2010

Cara Jepang Menyejahterakan Petani Bunga

Pemerintah Jepang bisa menyejahterakan petani bunga potongnya dengan menerapkan sistem perlindungan varietas tanaman. Petani di wilayah Ashiro misalnya setelah menerapkan sistem ini, penghasilan mereka meningkat menjadi Rp 550 juta/tahun/petani. Penghasilan itu jauh di atas rata-rata penghasilan petani bunga potong di Jepang sebesar Rp 370 juta/tahun/petani.

Direktur Hak Kekayaan Intelektual pada Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (MAFF) Jepang, Yasuhiro Kawai mengatakan Jepang telah menerapkan sistem perlindungan varietas tanaman (PVT) dengan mengadopsi UPOV Convention (Konvensi Organisasi Perlindungan Varietas Tanaman Dunia) sejak tahun 1978, dengan beberapa kali amandemen.

Pertimbangan Jepang menerapkan sistem PVT tersebut dengan tujuan agar pertanian Jepang bisa mendapatkan bibit unggul yang menguntungkan dan dapat berproduksi tinggi, tahan terhadap hama, mampu beradaptasi pada iklim. “Semua ini perlu dilakukan untuk kepentingan kesejahteraan petani,” tambah Yasuhiro Kawai kepada Sinar Tani di Jakarta.

Selain itu, lanjut Yasuhiro penerapan sistem PVT ini di tingkat petani memungkinkan Jepang mendapatkan bibit unggul dari luar negeri dan dihasilkan bibit unggul varietas baru original Jepang.

Sistem PVT yang diterapkan pemerintah Jepang itu lalu dilaksanakan oleh pemerintah daerah, di antaranya adalah Pemda Ashiro. “Awal pengembangannya, Walikota Ashiro punya kekhawatiran karena banyak petani di wilayahnya yang keluar mencari nafkah tambahan ke luar daerah,” tambahnya. Padahal ada lahan di Ashiro yang sangat luas untuk pertanian.

Untuk mengatasi masalah itu dan memanfaatkan lahan yang ada, Walikota Ashiro bekerjasama dengan sebuah Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Ashiro Rindo Development Corporation. LSM tersebut bersama petani dan Pusat Pengembangan Tanaman HIas Kota Ashiro melakukan penelitian untuk menemukan komoditi dan teknologi yang tepat untuk wilayah ini. “Akhirnya ditemukan komoditi yang tepat untuk wilayah ini yakni bunga potong yang mereka namakan Ashiro.

Bunga potong itu didaftarkan dan mendapatkan sertifikat PVT. “Selanjutnya petani bunga potong yang menggunakan bibit hasil kerjasama penelitian diwajibkan membayar royalty 2 persen dari jumlah yang terjual,” tambah Yasuhiro.

Royalti itu dibayarkan kepada LSM untuk dikelola. Sebagian dari dana itu disetorkan ke Pusat Penelitian Florikultura yang dimiliki Walikota Ashiro. “Pusat penelitian punya kewajiban untuk memberikan pelayanan teknik budidaya kepada para petani yang terlibat,” jelasnya.

Dana yang masuk ke Pusat Penelitian tersebut dimanfaatkan oleh lembaga penelitian itu untuk melakukan pemuliaan, hingga akhirnya sampai saat ini para petani Ashiro mendapatkan 11 varietas unggul bunga potong lainnya.

Produksi bunga potong petani Ashiro itu sebagian telah diekspor ke Eropa. Nilai ekspornya pada tahun 2008 sebesar Rp 4,5 miliar. “Royalti penjualan ekspor ini tetap dibayar petani,” tuturnya lebih lanjut.

Penerapan sistem PVT di Jepang seperti itu berhasil meningkatkan kesejahteraan petani setempat.  Pendapatan petani rata-rata meningkat dari Rp 460 juta/tahun/ petani pada tahun 1990 menjadi Rp 550 juta/tahun/petani pada tahun 2000. Ahmad Soim

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: