Oleh: Ahmad Soim | 19 Juli 2010

Berkah Tata Air Mikro bagi Petani Rawa

 

Lahan yang tadinya rawa kini telah menjadi kebun jagung yang sangat luas. Dalam satu hamparan ada 1700 ha kebun jagung. Hal itu terwujud setelah dibangun jaringan irigasi tata air mikro (TAM) di daerah rawa di kawasan daerah irigasi rawa Air Manjunto Kanan di Desa Sumber Makmur, Lubuk Pinang, Mukomuko, Propinsi Bengkulu.

Tata air mikro di Muko Muko Provinsi Bengkulu

petani jagung di tam muko muko

 Menteri Pertanian Suswono hadir di lokasi dan ikut menanam jagung di lokasi ini bersama Dirjen Pengolahan Lahan dan Air Hilman Manan dan Bupati Mukomuko Ichwan Yunus.  “Bila petani kekurangan modal untuk menanam atau untuk kegiatan pasca panennya bisa memanfaatkan kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE) dengan bunga 6 persen tetapi harus pakai agunan,” tutur Suswono. Saat ini para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Mekar Sari telah mendapatkan modal Rp 100 juta dari pemerintah untuk Pengembangan USaha Agribisnis Pedesaan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Bumi Makmur Miftahurrohman (28) yang mengelola dana PUAP itu mengatakan dananya digunakan untuk jual beli pupuk dan sarana produksi pertanian. Dengan dana PUAP itu, mereka mengaku banyak dimudahkan untuk mendapatkan pupuk.

Miftahurrohman mengatakan  Kelompok Tani Mekar Sari yang mengelola Tata Air Mikro di desa Sumber Makmur mengatakan sangat terima kasih atas bantuan dan kepedulian pemerintah pusat. Selain dibantu modal, di desa ini juga mendapatkan bantuan pembangunan jaringan irigasi tata air mikro TAM. Karena bantuan ini, daerah yang tadinya rawa sekarang sudah menjadi tanah kebun.

“Di sini dulu kita tidak bisa duduk di sini. Tinggi airnya sampai dada,“ tambah Miftahurrohman yang kelompoknya menjadi juara I TAM tingkat nasional tahun 2009. “Dulu, k ita paling bisa tanam satu kali dalam setahun, hanya bisa tanam padi, itupun cara menanamnya dengan sambil dilempar, naik di atas lumpur,” tambahnya. .

Di sela-sela kunjungan Menteri Pertanian Suswono dan Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air Hilman Manan tanam perdana jagung di lokasi ini, Miftahurrohman mengatakan pada tahun 90-an banyak transmigran yang lari dari daerah ini. “Di wilayah seluas 1.700 ha ini baru bisa ditanami sejak tahun 2006 setelah ada program tata air mikro (TAM),” tambahnya.

Bantuan TAM ini menurut Miftahurrohman adalah atas usulan para petani. “Dari berbagai usulan dari petani, yang kebanyakan belum ada penghasilan, mereka minta tata air mikro. Turunlah bantuan pembangunan TAM untuk seluas areal 800 ha pada tahun 2006,” tambahnya. Selanjutnya pada tahun 2007 di lokasi ini juga dilakukan pembangunan TAM seluas 550 ha, dan pada tahun 2009 seluas 350 ha, sehingga totalnya mencapai 1700 ha.

“Manfaat TAM banyak bagi petani, tadinya tanah yang tidak menghasilkan bisa untuk tanam jagung, setahun bisa dua kali tanam,” jelasnya lagi. Dengan adanya TAM maka air bisa diatur. TAM di sini untuk jaringan pengeringan saja, karena wilayah di sini bukan pasang surut, melainkan rawa lebak.

Miftahurohman memiliki lahan 1,5 ha kebun jagung hibrida di wilayah ini, hasilnya 4-5 ton pipilan kering siap jual, sekarang harganya Rp 2400/kg. Pendapatannya Rp 9 juta lebih, bersihnya sekitar Rp 4 juta dalam waktu 4 bulan. “Tetapi saya bisa tanam setahun 3 kali kalau cuaca mendukung,” tuturnya.

Petani lainnya pemilikan lahannya minimal 0,75 ha, banyak juga petani yang memiliki lahan kebun jagung 2 ha. Banyak juga petani yang punya lahan 2-3 ha, jadi tenaga kerjanya masih kurang maka harus dibantu alat dan mesin. Di sini baru ada  6 traktor. Padahal satu traktor hanya bisa mengolah lahan 10 ha.  Penyawaan trakror sudah ada di sini,  sewa/ per ha 400 ribu: 40 persen untuk operator. 

Para petani di sini mentargetkan bisa menghasilkan jagung 10 -12 ton/ha, namun belum bisa dicapai karena petani belum mau laksanakan rekomendasi teknis budidaya yang diberikan penyuluh.  

  Bupati Mukomuko Ichwan Yunus mengatakan Pemda sangat mendukung program pemanfaatan lahan rawa untuk kebun jagung yang dilakukan pemerintah pusat melalui pengembangan jaringan irigasi tata air mikro. “Hal itu dilakukan untuk memperluas lahan pertanian, sekaligus memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat setempat,” kata Bupati Mukomuko, Ichwan Yunus.

Pembangunan tata air mikro, kata dia, dengan memanfaatkan lahan gambut dan rawa lebak merupakan terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi petani yang membutuhkan lahan.

Tanaman pangan di kabupaten itu, merupakan komoditas andalan bagi masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup dan lainnya. Pemkab Mukomuko, pada 2009 telah mengembangkan dan memajukan sektor pertaniannya dengan memanfaatkan lahan tidur yang selama ini tidak dimanfaatkan.

“Terobosan yang telah dilakukan untuk kemajuan sektor pertanian dan peningkatan penghasilan petani sudah menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Kabupaten yang berjarak 270 kilometer dari Kota Bengkulu itu, mempunyai luas wilayah empat kilometer persegi dan merupakan daerah pesisir yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia.

Mayoritas penduduknya, merupakan petani yang tersebar di 25 kecamatan dan 151 desa/kelurahan sehingga harus dilakukan upaya yang optimal agar sektor pertanian terus berkembang dengan baik.

Jumlah penduduk yang ada, berjumlah 148.340 jiwa atau 33.218 kepala keluarga (KK) yang berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Selain pemanfaatan lahan tersebut, menurut dia, Pemkab telah membangun jaringan irigasi tingkat usaha tani pada kawasan tanaman pangan yang mencapai 5.997 meter pada 2009.  

 

===========

Menunggu Berfungsinya Irigasi Air Majunto Kanan

Daerah Irigasi wilayah Air Manjunto Kanan yang menjadi lokasi TAM di Desa Sumber Makmur, Lubuk Pinang, Mukomuko, Bengkulu adalah sangat potensial sekali untuk usaha tani budidaya tanaman palawija. Sayangnya sampai saat ini jaringan Irigasi belum berfungsi karena masih dalam tahap pelaksanaan pembangunan.

Para anggota tani sangat antusias dalam mewujudkan usaha tani dengan berbagai upaya yang salah satu usahanya adalah menanam tanaman palawija. Untuk membantu usaha tersebut sambil menungggu fungsinya jaringan Irigasi Manjunto Kanan, maka diterapkan tata Air Mikro (TAM ).

 Kelompok Tani Mekar Sari di desa ini berdiri pada tanggal 10 juni 2006. Kelompok Tani ini ikukuhkan sebagai Kelompok Tani Pemula pada tanggal 7 juli 2007. Dari kelompok tani yang ada di desa ini mereka sepakat Kelompok Tani Mekar Sari lah yang sebagai pengelola (TAM).

     Tujuan pendirian kelompok tani ini adalah untuk  pengelolaan TAM dan manajemen budidaya secara bersama, meningkatkan luas garapan, dan meningkatkan hasil produksi.

 Tata Air Mikro ini didanai dari sumber dana APBN Departemen Pertanian  Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air yang disalurkan melalui kegiatan yang ada di lingkup dinas Pertanian Perkebunan dan kehutanan Kabupaten Mukomuko dari tahun 2006. Selain itu juga berasal dari anggota kelompok tani baik Swadana maupun Swadaya. Som

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: