Oleh: Ahmad Soim | 8 September 2010

Kue Lebaran Non Terigu Di Tengah Banjirnya KUe Terigu IMpor

Pangan non terigu: industri rumahan

Pangan non terigu: industri rumahan

Beragam kue kering dan minuman non terigu disajikan masyarakat saat lebaran Idul Fitri. Di samping nikmat, sehat, bergizi, pangan olahan produksi industri rumah tangga itu tergolong lebih murah dibanding banjirnya kue kering berbahan baku tepung terigu impor.

 

Dian Herawati Dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor mengatakan telah banyak produk kue non terigu yang dihasilkan IPB. Di antaranya kue kering dari tepung jagung, tepung ubi jalar dan tepung sagu.

“Tepung-tepung tersebut dapat diolah menjadi berbagai kue lebaran dengan rasa yang tidak kalah enak, penampilannya menarik dan kandungan gizinya yang tidak kalah dari kue berbahan baku tepung terigu,” ujar Dian.

Harga kue tersebut pun tidak mahal. Untuk satu stoples kue leku-leku dari tepung sagu dengan tambahan bahan berupa kacang tanah, pisang dan telur harganya Rp 35 ribu. “Kue leku-leku dengan tepung sagu ini telah dikembangkan secara industri rumah tangga di Halmahera Tengah, Maluku Utara atas binaan IPB dan PT Aneka Tambang,” katanya.

Sebagian masyarakat pun lebih menyukai kue buatan sendiri dari pada membeli kue pabrik dari tepung terigu saat lebaran. Bu Suparti yang tinggal di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, salah satunya.  Ia memilih menyajikan makanan alami buatan sendiri karena tidak menginginkan anak-anaknya mengkonsumsi makanan berbau kimia. “Kalau makanan buatan pabrik saya ragu, karena mereka memakai pengawet makanan sehingga bisa bertahan hingga 3 bulanan dan rasanya pun tidak bisa dijamin. Sedangkan kalau untuk buatan sendiri, kita sudah yakin aman dikonsumsi dan kita tahu apa yang layak disajikan untuk keluarga,” terangnya.

Suparti tidak kehilangan ide untuk membuat ragam pangan non terigu. “Biasanya saya membuat menu makanan khas lebaran itu banyak sekali jenisnya dan saya pilih yang mudah saja, seperti kembang goyang; kue lumpur; dodol; geplak tiwul; akar kelapa; kue kering nastar; klanting singkong; lemper; peyek; tiwul kukus; rengginang; buah manisan kolang-kaling, dan kue semacam cireng dengan nama bandos ganyong,” tambahnya.

Cara membuat kue-kue ringan dengan tepung ganyong pun tidak susah. Hanya saja, produksi tepung ganyong masih belum banyak. Terutama bila menjelang lebaran, saat permintaahnya meningkat, pasokan tepung ganyong tidak mencukupi.

Ada satu minuman khas yang disuguhkan Suparti yakni minuman dawet dari jerami padi. Minuman ini bukan hanya ia buat saat buka puasa dan lebaran, melainkan ia usahakan sehari hari untuk dijual ke masyarakat. “Dawet alami ini punya banyak khasiat untuk kesehatan,” tuturnya.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Dr. Achmad Suryana mengatakan lebaran merupakan kesempatan untuk melakukan sosialisasi pentingnya keanekaragaman pangan. “Keanekaragaman pangan ini bisa lebih meningkatkan asupan gizi dan kesehatan masyarakat,” tuturnya.

Komitmen Pemerintah dalam mengembangkan pangan nonberas juga non terigu, kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Dr Achmad Suryana antara lain melalui berbagai kebijakan seperti mendorong diversifikasi pola konsumsi berbasis pangan lokal; meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap keanekaragaman pangan; dan mendorong pengembangan teknologi pengolahan pangan non beras dan non terigu.

 Untuk mendorong industrialisasi tepung tepungan non terigu  antara lain dilakukan dengan pemberikan stimulus pengembangan tepung-tepungan pada usaha kecil bidang pangan; sosialisasi, advokasi dan pembinaan peningkatan pemanfaatan pangan lokal melalui tepung-tepungan; pemberian peralatan pengolahan tepung-tepungan kepada usaha kecil bidang pangan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mutu tepung yang dihasilkan; mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam meneruskan sosialisasi dan pengembangan teknologi tepung-tepungan; dan terus mengupayakan pencitraan tepung cassava menjadi tepung nasional.

Untuk mempermudah  sosialisasi beragam pangan itu   dibentuklah “Warung 3B”. Warung ini mulai beraktivitas tahun 2006 yang dikelola oleh pegawai dari kementerian pertanian. Fokus utamanya, mengembangkan pemanfaatan pangan lokal; menyediakan aneka bahan pangan lokal dalam bentuk butiran, tepung dan mie secara berkelanjutan.

 Ada tiga resep pilihan pangan olahan non terigu dan non beras untuk menyambut hari raya Idul Fitri yang ditawarkan Warung B3, yakni: Kue kering 123 kerjasama dengan Badan Litbang; kue nastar;  dan kastengels tepung sagu. Selain ketiga jenis kue ini masih ada banyak jenis kue olahan lainnya yang tak kalah menariknya bila dinikmati saat lebaran.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: