Oleh: Ahmad Soim | 4 Mei 2009

Jeruk Aman dari CVPD: Satu Lahan Panen Dua Jenis Buah

 

Punya satu lahan, tapi bisa panen dua jenis buah sekaligus: jeruk dan jambu. Dan, hebatnya tanaman jeruk yang biasanya mudah terserang penyakit CVPD (Citrus Vein-Phloem Degeneration), karena ditanam tumpangsari dengan  jambu biji sukun, bisa lebih kebal.

Hal itu diungkapkan Prof. Dr Siti Subandiyah ahli penyakit tanaman dari Universitas Gajah Mada (UGM). “Penelitian lapangan yang kami lakukan dengan menanam jambu biji sukun (yang bijinya sedikit–red) di antara tanaman jeruk, hasilnya menunjukkan populasi penyakitnya lebih sedikit dibanding yang tidak ditanami jambu,” katanya saat ekspose hasil penelitian UGM dalam rangka perayaan 25 tahun The Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR) di Indonesia.

Siti Subandiyah menambahkan bila tanaman jeruk tidak terkena CPVD bisa berproduksi 40 ton/ha, namun jika terkena serangan penyakit ini hanya 15 ton/ha, dan kalau sudah parah serangannya, tanaman tidak akan berbuah.

Menurutnya, selama ini produksi jeruk mengalami fluktuasi. Luas arealnya bertambah karena ada penanam baru, dan berkurang karena ada areal yang terserang CVPD. Namun areal baru kebun jeruk selama muncul, karena keuntungan menanam jeruk yang menjanjikan.

Dikatakannya, di budidaya jeruk, setiap modal Rp 1000 yang diinvestasikan akan diperoleh pendapatan hingga Rp 3.200. Artinya keuntungan bisa mencapai 3 kali lipat dari modal.

Penyakit CVPD pun sudah terbang hingga ke Amerika Serikat. Saat ini di Florida, AS sekitar 30 persen tanaman jeruknya sudah terserang CVPD.

Budi Rusyanto, petani jeruk siam di Desa Botodaleman, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah mengisahkan pada tahun 1975 pernah punya 2000 pohon, bisa menghasilkan 75 ton jeruk, namun sayang tanaman itu harus ia bongkar karena terkena CVPD. Pada tahun 1980 ia coba tanam lagi, namun rusak lagi dan tidak ada hasilnya. “Saya putus asa,” kata Budi.

Achmad Iswanto Thoil mantan petani jeruk mengatakan saat ini banyak petani bibit tanaman jeruk yang gulung tikar. “Saya juga belum mau tanam lagi karena dihitung-hitung tidak ada untungnya, biaya garap tinggi Rp 20 ribu/ tanaman sampai pohon berbuah, namun belum tentu bisa berbuah,” katanya.

Tertarik

Melihat lokasi kebun jeruk siam yang ditanam secara tumpang sari dengan jambu biji, Budi mengaku tertarik untuk menanam jeruk kembali. “Untuk intercroping (tumpangsari) ini bisa dikatakan nggak ada serangan,” tutur Budi lagi.

Prof. Siti Subandiyah dari UGM menjelaskan tanaman jambu mampu mengeluarkan aroma yang membuat virus CVPD tidak mau mendekat. “Untuk itu tanaman jambu bijinya perlu sering dipangkas,” tuturnya.

Budi ingin agar teknologi ini ditularkan ke petani. “Sekarang petani baru tanya-tanya saja,” katanya. Dia berharap bisa menghidupkan kembali kelompok tani. “Teknologi ini ada harapan.”

Cara budidayanya lanjut Siti Subandiyah, setelah tanaman jeruk ditanam sekitar umur satu tahun, tanaman jambu biji ditanam. Populasinya 50 persen tanaman jeruk dan 50 persen tanaman jambi biji.

Siti Subandiyah berharap teknologi ini dikembangkan Departemen Pertanian untuk masyarakat, UGM akan mendukung teknologinya.

Kombinasi

Menurut Prof. Y. Andi Trisyono dari UGM untuk mengatasi penyakit sebaiknya tidak dengan menggunakan satu teknologi, melainkan perlu melakukan kombinasi teknologi.

“Kalau satu teknologi serangga akan melakukan serangan kembali (kekebalan),” tambahnya. Penyebab lainnya, sering menjalarnya CVPD adalah petani tidak menggunakan bibit yang sehat karena fasilitas untuk produksi bibit terbatas. Yang di screenhouse hanya induknya. Padahal bisa saja bibitnya yang terinfeksi. “Makanya perlu dipastikan dengan uji lab agar bibit yang dijual benar-benar bebas virus,” tuturnya.

Gejala CPVD lanjut Siti Subandiyah mirip dengan kekurangan unsur hara, kalau dilihat di lapangan saja tidak akurat, maka perlu dideteksi dengan uji di lab molekuler agar pasti, UGM sedang mengembangkan alat untuk deteksinya.

Cara lain yang dikembangkan UGM untuk mengatasi CPVD, menyemprotnya dengan minyak mineral (C21 untuk tanaman hortikultural dan C24 untuk agricultural). Kalau menggunakan pestisida beracun.

Bila tanaman disemprot dengan minyak mineral ini, lalu penyakit ini menempel pada jeruk yang diaplikasi maka bila dia  tidak bisa bernafas dan mati. Hama ini juga tidak mau meletakkan telur yang diaplikasi. Hasilnya, minimal sama dengan menggunakan pestisida. Dosisnya 0,5 persen, disemprotkan seluruh bagian tanaman.

Rencananya UGM akan mengkomersialkan oil mineral ini, sedang proses ijinnya ke Pusat Perijinan dan Investasi Deptan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: