Oleh: Ahmad Soim | 22 Desember 2009

Budaya Merabuk

Ahmad Soim

Kata rabuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kata lain dari pupuk. Satu kata ini   telah menjadi ‘hantu’ sepanjang sejarah negeri ini.  Ada dua hal yang ditakutkan: pertama, soal ketersediaannya. Kedua, soal harganya.

Di era orde baru, Presiden RI Soeharto langsung bertindak bila mendengar pupuk langka di pasaran nasional. Dirut Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang pupuk bisa diberhentikan karenanya.

Kekuatan dan perhatian penuh pemerintah itu mampu menjamin pasokan pupuk plus harganya yang rendah di tingkat petani. Konsumsi pupuk kimia (an organik) pun meningkat dari waktu ke waktu.

Namun tanpa disadari, akibat kebijakan itu, pemakaian pupuk kandang (pupuk organik/ kompos) mulai ditinggalkan petani. Akibatnya tanah tanah pertanian makin keras dan tidak lagi subur. Soalnya, kandungan bahan organik tanahnya anjlok tinggal hanya 2 persen, idealnya adalah 5 persen.

Kini kesadaran pentingnya menggunakan rabuk organik mulai tumbuh. kesadaran itu juga dipicu oleh ketidakmampuan pemerintah memberikan dana subsidi pupuk. Pada tahun 2010, subsidi untuk pupuk dipangkas dari yang semula sekitar Rp 17 triliun, tinggal sekitar Rp 11 triliun. Pengurangan subsidi pupuk ini, akan menaikkan harga pupuk kimia di tingkat petani.

Pemerintah membayangkan pupuk organik bisa jadi penyelamat petani. Itu bila petani mau dan mampu memproduksi pupuk organik sendiri. Budaya petani membuat rabuk organik pun ditumbuhkan kembali dengan sentuhan teknologi dan skala usaha dan ekonominya diperbesar. Sehingga terkesan lebih modern dan berbudaya industri.

Rumah Kompos itulah yang dikembangkan Departemen Pertanian untuk itu. Deptan pada tahun 2009 telah memberikan bantuan membangun 154 rumah kompos. Ada bantuan bangunan rumah kompos yang cukup mewah, alat mesin pencacahnya, plus teknologi pembuatan mol (bakteri).

Sekitar 41 rumah kompos itu dilengkapi dengan ternak. Masing-masing rumah kompos mendapat bantuan antara 33-35 ternak sapi. Kotoran sapinya untuk campuran membuat kompos.

 Pada tahun 2010, rencananya Departemen Pertanian melalui Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air akan membangun 200 rumah kompos lagi. Pemerintah berharap bantuan rumah kompos itu bisa menjadi pendorong munculnya swadaya petani dan budaya membuat dan menggunakan pupuk organik di kalangan petani.

Manfaat pengembangan rumah kompos sudah terasa di lapangan. Banyak Gabungan Kelompok Tani yang mendapatkan bantuan rumah kompos ikut menyumbang dana secara swadaya. Di antara membangun kandang ternak, pagar serta mereka bergotong royong membangun dan mengoperasionalkan rumah kompos itu.

Bahkan di antara mereka ada yang berusaha untuk menjual produk komposnya ke luar anggota. Harapannya, dengan pengelolaan seperti itu, maka rumah kompos ini bisa langgeng bahkan berkembang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: