Oleh: Ahmad Soim | 22 Desember 2009

Pak Sus dan Pak Bayu

Ahmad Soim

Pak Sus dan Pak Bayu. Keduanya, petani yang tinggal di desa dekat kota. Mereka biasa menanam kacang panjang di lereng bukit. Sebagian lahan itu ia tanami singkong. Tak ada irigasi, ia pun hanya berharap pada air hujan.

Harap-harap cemas. Ketika mulai menanam, mereka pun mulai menabur harapan.  Semoga hujan bisa turun menyirami tanamannya. Pupuk ia taburkan. Pestisida ia semprotkan. “Smoga tanaman ini bisa panen atas ijin Allah,” doa Pak Sus.

“Mudah-mudahan lahan ini tidak ada yang minat untuk membangun perumahan atau villa estate ya Pak”, ucap Pak Bayu kepada Pak Sus. “Bila itu terjadi, bukan hanya tanaman dan modal kita amblas, kita pun sudah tak mungkin jadi petani lagi,” timpal Pak Sus.

Pak Sus punya anak banyak, lima anaknya. Tiga sudah berkeluarga. Semuanya hanya lulus sekolah dasar (SD). Setiap  hari, setelah dari ladang, Pak Sus ambil rumput untuk pakan kambing. Dari kambing itulah, Pak Sus bisa membiayai nikah bagi anak-anaknya untuk menuntaskan tugasnya sebagai orang tua. Sedangkan biaya keseharian, ia menambang pasir di sungai dekat bukit itu. Namun pesanan pasir tidak bisa dipastikan adanya.

Pak Bayu agak beruntung nasibnya. Umurnya  lebih muda dibanding Pak Sus. Anaknya yang pertama dah masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di luar kesibukannya sebagai petani, ia jadi satpam di ibukota. Ada gaji tetap. Ada Tunjangan Hari Raya. Bahkan bila beruntung, terkadang bisa diajak ke luar kota plus tambahan pendapatan.

Meski demikian, hidup keseharian Pak Bayu bukan tanpa kepiluan. Terkadang ia hanya punya beras. Tidak ada sayur, tidak ada lauk. Itulah makanya Pak Bayu seringkali pergi memancing ikan di sungai atau mancing belut di sawah.

Desa Pak Sus dan Pak Bayu tinggal adalah desa yang sangat indah. Saat pagi, kabut dan embun selalu menghiasi. Ketika shubuh, adzan berkumandang. Suara ayam berkokok, yang bekerja sebagai pedagang pun ke pasar. Damai rasanya.

“Namun kami akan lebih damai, sekiranya harga-harga pupuk dan pestisida tidak semakin mahal,” celetuk Pak Bayu. Berapapun harganya Pak Bayu tetap harus beli. “Dari pada tanaman terserang penyakit atau gagal panen,” ungkapnya.

Entahlah Pak Bayu, kalau Pak Sus sekarang ini sudah tidak tahu harus berbuat apa. Sudah terlalu lama kami hidup dalam harap-harap cemas begini. Entah kepada siapa kita berharap. Adakah yang bisa memberikan cara (wasilah) kepada kita untuk bisa sukses  seperti Pak Menteri dan Pak Wakil Menteri. “Selamat Pak. Kami berharap Bapak-Bapak bisa menularkan kesuksesan hidup kepada kami para petani”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: