Oleh: Ahmad Soim | 4 Januari 2010

Penyuluhan: Memberi Petani Harta yang Sangat Berharga

Ahmad Soim, Redaktur Pelaksana Tabloid Sinar Tani

Mad Saleh (57). Ia petani penggarap. Tinggal di Desa Nyapah, Kec. Walantaka, Kota Serang, Provinsi Banten. Berbagai penyuluhan dan sekolah lapang ia ikuti. Ia kini tak mau ketinggalan dalam menerapkan teknologi. Jabatan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) pun diraihnya. Di organisasi sosial-ekonomi petani itu, Mad Saleh diamanahi mengelola dana Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) Rp 100 juta.

Roda kehidupan terus berputar. Bagi mereka yang sudah kenyang ‘asam-garam’ kehidupan ‘kehilangan’ dan ‘kejatuhan’ harta bukan lagi aneh. Apalagi buat petani. Cukup dua kata buat mereka: panen dan harga, bisa “menjungkirbalikkan” kehidupannya. Perhatikan kehidupan petani cabe. Ketika panennya berhasil dengan harga jual cabe yang tinggi, apa pun bisa terbeli. Namun, ketika dia gagal panen atau harga jual cabenya anjlok, bukan hanya modal untuk biaya produksinya yang tidak balik, sawah, rumah dan mobil pun bisa digadaikan atau bahkan dijual.
Kisah senang bahkan lucu, lalu berganti sedih dan pilu pun acapkali terjadi dalam kehidupan petani pekebun. Ketika harga kopi tinggi, petani kopi di Liwa Lampung, tiba-tiba jadi orang kaya. Lucunya, mereka ada yang membeli kulkas (lemari pendingin), padahal waktu itu belum ada listrik di desanya, akhirnya kulkasnya cuma untuk lemari baju. Sebaliknya, ketika harga kopi jatuh dan jatuh rendah sekali, kehidupan mereka berganti sedih. Ke kebun kopi saja mereka enggan. Biaya panennya tidak tertutup dengan harga jual biji kopinya. Akhirnya, biji kopi itu mereka biarkan jatuh dari pohonnya di tanah ‘hutan’ kopinya.
Lain lagi dengan kehidupan petani padi berlahan sempit . Kalau petani lainnya terkadang bisa berada di atas, petani padi ini selalu berada di bawah. Dengan lahan yang hanya 3 ribu meter, ia hanya bisa memperoleh gabah 2 ton. Seringkali hanya bisa panen sekali dalam setahun. Artinya ia harus hidup dengan Rp 4 juta per tahun, atau Rp 333.333 per bulan. Bila keluarga petani itu punya anak lima, setidaknya ia harus membeli beras 60 liter/bulan, harganya sekitar Rp 282.000. Sisanya tidak cukup untuk beli sayur dan lauk, apalagi untuk menyekolahkan anaknya, bila ia tidak kerja lain selain menanam padi.
Mereka adalah pahlawan pangan bagi negara yang perlu dibalas jasanya oleh negara. Sebab itu, perputaran roda kehidupan para pahlawan penyedia pangan sangat perlu diubah. Mereka tidak sewajarnya hidup dalam kondisi yang masih lebih banyak ketidakpastiannya.
Telah banyak pendekatan pembangunan untuk itu. Ada pendekatan makro ekonomi (moneter-finansial) juga ekonomi mikro (teknis pertanian). Di kebijakan moneter-finansial hingga saat ini belum ada dukungan yang memadai untuk para petani. Di antaranya bank masih memperlakukan kredit pertanian sama dengan kredit bidang lainnya, padahal sudah sangat jelas di banyak negara ada perlakuan khusus kredit untuk pertanian. Perlakuan khusus ini perlu dilakukan paling tidak karena dua alasan. Pertama, karena sifat usaha pertanian yang berbeda dengan usaha lainnya. Kedua, karena usaha ini sangat diperlukan secara sosial, ekonomi dan politik. Peran penting pangan dan pertanian bagi stabilitas ekonomi dan politik negara sudah dibuktikan sepanjang perjalanan dan pergantian kepala negara ini.
Di level teknis pertanian pun sudah banyak pendekatan pembangunan untuk menyejahterakan petani. Intinya ada dua. Pertama, meningkatkan efisiensi biaya usaha tani. Antara lain dengan menekan biaya produksi melalui masukan teknologi, rekayasa kelembagaan petani, subsidi dan lain-lain. Kedua, meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha tani, dengan langkah-langkah teknis yang hampir sama dengan di upaya meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Program-program itu telah dirancang dengan perencanaan, perumusan tujuan, target dan sasaran yang begitu baik. Namun karena keterbatasan anggaran untuk melaksanakan program-program itu, maka ujung-ujungnya kegiatannya adalah berupa pilot proyek atau percontohan. Kelemahan pelaksanaan pilot proyek ini, pertama tidak massal. Kedua, masih banyak hal yang tidak bisa dipastikan pelaksanaannya sama persis antara rancangan program dengan pelaksanaan lapangannya, terutama di era otonomi daerah. Ketiga, pendekatan pembangunannya masih lebih banyak pendekatan pembangunan materi/fisik, belum diimbangi dengan pembangunan SDM-nya yakni kegiatan penyuluhan (pemberdayaan) yang maksimal.
Pembangunan fisik seperti itu, pada saatnya bangunan dan bantuan fisiknya akan habis atau rusak. Bila SDM-nya tidak diberdayakan maka tamatlah kegiatan pembangunan itu bila proyek/ kegiatannya berhenti. Demikian pula bila ada musibah yang menimpa fisik tersebut, mungkin karena gempa atau lainnya. Lain halnya bila SDM-nya disuluh, maka bangunan dan bantuan fisik itu bukan hanya bisa dipelihara tapi juga bisa dikembangkan oleh para petani.
Benar, penyuluhan pertanian sudah dilaksanakan juga dalam proses pembangunan pertanian selama ini. Bahkan sejak empat tahun lalu sudah lahir UU No.16/2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K). Dengan UU ini pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten wajib memiliki perhatian yang sama tingginya dalam meningkatkan kemampuan SDM petani.
Persoalannya adalah ego sektoral yang masih seperti tembok baja. Pembangunan fisik dari direktorat teknis berjalan sendiri. Pada satu sisi, jumlah program dan pilot proyek pembangunan pertanian sangat-sangat banyak. Sementara, sistem dan kegiatan penyuluhan tidak bisa men-cover semua kegiatan itu di lapangan. Banyak kendalanya, di antaranya: karena luasnya wilayah, sedikitnya jumlah dan keterampilan penyuluh, terbatasnya dana dan lain-lain.
Bagaimanapun ego sektoral itu harus dihapuskan. Harus disatukan kegiatan pembangunan fisik dengan SDM petani. Mad Saleh adalah contoh petani yang beruntung mendapatkan penyuluhan yang memadai. Dengan kemampuan dan keterampilan yang ia miliki itu, ia bisa memanfaatkan bantuan fisik pemerintah dan mengembangkannya lebih lanjut. Walau ia petani penggarap, ia termotivasi untuk menerapkan teknologi dan rekayasa kelembagaan tani untuk kemajuan dan kesejahteraan diri dan anggota kelompoknya. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: