Oleh: Ahmad Soim | 30 Maret 2010

Pertanian ASEAN Hebat, Eropa dan AS Kalah

Untuk kemajuan agribisnis negara negara Asean, Prof. Hermanto Siregar Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan sebaiknya antar negara Asean tidak bersaing saling mematikan dalam perdagangan bebas Asean China (Asean-China Free Trade Agreement). Negara-negara Asean minus China harus bisa bersatu untuk memperkokoh posisi tawar Asean di pasar dunia dan saling menolong di perdagangan antar Asean.

“Dalam perdagangan bebas termasuk di perdagangan bebas Asean dan China, begitu kita sudah meratifikasinya maka timing atau waktu sangat penting,” tambah Prof Hermanto Siregar wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Sumberdaya dan Pengembangan kepada Sinar Tani di Bogor. Siapa yang memulai pertama meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas pasti dialah yang pertama mendapatkan keuntungan yang besar. Namun setelah ada pelaku lain masuk, maka harganya akan turun dan pendapatannya pun menurun.

Pada sisi lain, dalam pasar bebas kalau kita salah maka kita akan kemakan sama yang lain, dan produk kita kalah bersaing.

Yang perlu kita lakukan dalam pasar bebas Asean-China itu adalah bagaimana negara-negara Asean minus China bisa kompak dan tidak bersaing di antara negara-negara Asean untuk saling mematikan. Contoh, pertama, Indonesia dan Malaysia dalam hal memasarkan CPO-nya tidak perlu pakai standar harga di Rotterdam, melainkan misalnya bisa dibuat di Malaysia. Hal ini semestinya bisa dilakukan karena Indonesia dan Malaysia adalah menguasai 80 persen produksi CPO dunia. Kalau di Rotterdam berarti yang mengontrol harga adalah pembeli, namun bila bisa di Malaysia maka yang mengontrol harga adalah produsen.

Kedua, untuk komoditi beras, kalau negara-negara Asean bersatu maka kita bisa mengontrol harga ekspor beras, karena potensi dan produksi beras Asean kuat sekali. Misalnya bisa diberlakukan untuk ekspor beras antar negara Asean harganya normal, tapi kalau untuk negara di luar Asean harganya lebih tinggi.

Ketiga, untuk jagung. Saat ini yang kuat diproduksi jagung adalah Amerika Serikat dan Amerika Latin. Namun negara-negara Asean juga punya potensi untuk menjadi produsen jagung utama di dunia.
Untuk bisa menyatukan perdagangan antar negara Asean itu maka langkah pertama yang perlu ditempuh adalah harus ada Asean Charter. Asean Charter ternyata sudah ada dan kesepakatannya dilakukan di Bali. Kedua ada aksi kegiatan yang jelas. Mentan dan Mendag Asean harus duduk bersama untuk memfokuskan Common Asean Policy (CAP) ini. Pada tahap awal bisa dilakukan untuk komoditi sawit dan karet. Kemudian diikuti beras dan jagung.

Hal lain yang bisa dilakukan Indonesia agar tidak menjadi pasar atas negara lainnya adalah memberlakukan prinsip reciproxalitas dalam negosiasi dan diplomasi perdagangan. Artinya, mau mengimpor barang tertentu kalau negara Indonesia diperbolehkan ekspor produk lain yang setimpal. Sebaliknya, Indonesia tidak mau impor kalau tidak diperkenankan untuk ekspor.

Saat ini kondisi neraca perdagangan Indonesia baru surplus dengan China untuk komoditi primer, kalau produk pangan olahannya dihitung maka neraca kita defisit. Yang kita impor kebanyakan produk-produk jadi. Impor produk yang kita lakukan variasi jumlahnya banyak sekali, namun kita hanya mengekspor produk yang variasi jumlahnya sedikit sekali. Dalam lima tahun kedepan saya masih pesimis neraca ini akan membaik, kita akan tetap defisit untuk produk olahan.

Untuk itu, kita harus kembangkan komoditi yang kita memang menang di situ, misalnya CPO. Kita ekspor CPO dan Minyak goreng ke sana, tetapi pabrik olein dan kosmetiknya ada di sana. Di sini harus kita melakukan negosiasi dengan prinsp reciproxalitas. Kalau tidak, maka produk primer kita menjadi engine of growth mereka. Misalnya untuk karet, kita bisa memproduksi ban berklualitas, sehingga bisa mengatakan bila Anda tidak membeli ban ini maka kita tidak mau ekspor karet. Diplomasi ini perlu dibarengi dengan informasi.

Untuk komoditi buah-buahan, sudah ada komoditi buah eksotis kita yang bisa diekspor ke China dan Jepang, antara lain salak dan manggis. Selain itu, bagaimana caranya agar konsumsi buah-buahan masyarakat Indonesia bisa lebih tinggi. Kita tahu, buah impor itu untuk konsumsi masyarakat menengah ke atas. Sedangkan kelompok menengah ke bawah dan miskin, konsumsi buahnya masih sangat minim. Ini perlu digarap dari segi konsumsinya. Jumlah masyarakat kelas bawah dan miskin itu banyak sekali, sekitar 75 persen dari total penduduk Indonesia. Ini adalah konsumen yang sangat besar. Perlu promosi-promosi untuk ini.
Pada sisi produksinya, bagaimana caranya agar buah kita diproduksi selayaknya kebun sehingga masa panen dan masaknya bisa sama. Dengan demikian, maka memudahkan membuat jadwal pengiriman ekspornya. Kebun buah itu, sekaligus bisa kita jadikan sebagai kebun wisata.

Sekarang sudah ada wisata agro tetapi masih belum banyak. Pengelolaan wisata ini dampaknya akan langsung diterima petani. Upaya ke arah ini adalah tanggung jawab pemerintah. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: