Oleh: Ahmad Soim | 1 April 2010

PETANI KAYA DARI LAHAN SEMPIT

Petani lahan sempit di Serang Banten

Walaupun hanya dengan lahan seluas 500 m2, petani di kabupaten Serang Banten bisa hidup layak. Per hari mereka bisa mendapatkan keuntungan minimal Rp 50 ribu dengan menanam sayuran. Penerapan teknik budidaya berwawasan agribisnis ini mereka lakukan melalui pembejalaran beragribinsis FMA.

Lahan yang sempit itu, hanya 500 M2, mereka bagi menjadi 30 petak, sehingga dalam satu bulan para petani bisa menanam sayur dan akhirnya bisa panen sayur setiap hari. Model tanam sayur seperti ini diperkenalkan Pemda Kabupaten Serang melalui program penyuluhan yang dikelola oleh para petani (FMA).
FMA adalah salah satu kegiatan inti dalam Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/FEATI). Dalam program inilah Kelompok Tani HARAPAN II Desa Curugsulanjana Kecamatan Gunungsari yang merupakan salah satu lokasi P3TIP di Kabupaten Serang Provinsi Banten membuktikan bahwa dengan kemauan yang menggebu, dengan bimbingan para penyuluh pertanian dalam transfer ilmu dan keterampilan, bisa menjadikan lahan yang tadinya kurang produktif dan sempit menjadi lahan yang produktif dan memberi harapan untuk dijadikan sumber penghasilan tetap.
Mereka menanam sayuran dataran rendah di lahan itu. Jenis sayuran yang ditanam adalah jenis sayuran yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat.
Mesi hanya dengan lahan 500 m2 para petani bisa mendapatkan penghasilan Rp 50 sd 75 ribu setiap hari setelah menanam kurang lebih 20-30 hari. Modalnya pun hanya Rp 25.000. Mereka menanam sayuran di lahan itu setiap hari. Setelah umur 20-30 hari sudah ada yang bisa dipanen per harinya. Untung yang didapatnya setiap hari rata-rata Rp 60.000/hari atau 1.800.000/bulan dengan hanya bekerja 4 jam per hari, bagi rumah tangga dengan anak satu pendapatan ini sudah cukup jadi andalan dan ini sudah di atas UMK yang telah ditatapkan Bupati Serang, belum lagi kalau diusahakan oleh tenaga sendiri bayaran yang tadinya untuk tenaga kerja Rp. 10.000/hari bisa ditabung.

Belajar Menerapkan Agribisnis
Edi Suhardiman dari Feati Serang mengatakan banyak hal yang dipelajari para petani di Serang dalam beragribisnis melalui program FMA ini. Selain mereka ada yang belajar menerapkan agribisnis sayuran dan ada juga yang bergerak di industri olahan hasil perkebunan.
“Rata-rata ada 2-3 pembelajaran agribisnis/ desa untuk komoditas budidaya dan ada juga yang menggunakan untuk pembelajaran agribisnis gender,” tambah Edi Suhardiman yang juga Kabid Pengembangan Kelembagaan dan SDM Penyuluhan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Serang. Ada 40 desa yang tersebar di 15 kecamatan di kabupaten Serang yang memperoleh bantuan program FEATI.
Dia mencontohkan ada petani FMA yang belajar agribisnis timun dan kacang panjang dengan menerapkan teknologi yang lebih maju dan efisien dibanding biasanya. Hasil produktivitasnya meningkat menjadi 30-40 ton/ha untuk lahan 1000-2000 m2, sebelum menggunakan teknologi ini rata-rata produktivitasnya antara 15-20 ton/ha. Teknologi yang diperbaiki adalah penggunaan benih unggul bermutu bersertifikat, pemupukan berimbang ditambah pupuk organik dan pemakaian mulsa plastik.
Di agribisnis gender, ibu-ibu petani mencoba usaha industri emping melinjo. Mereka melakukan pengolahan, pengemasan hingga pemasarannya. Selain itu juga ada yang mengusahakan telur asin. Untuk emping melinjo, harga jual bila sedang panen raya berkisar Rp 15 ribu/kg, biaya produksinya Rp 10 ribu/kg. Namun saat melinjo susah didapatkan yakni tidak sedang panen raya harga emping melinjo melonjak menjadi Rp 20 ribu/kg.
Di antara komoditas sayuran yang ditanam petani serang dalam program FEATI yakni sawi, kangkung dan bayam. Mereka menanam di lahan seluas 500 m2, dibuat menjadi 30 petak atau 15 m2/petak. Dengan membagi menjadi 30 petak, mereka bisa menanam tiap hari dan pada hari tanam ke – 30 mereka sudah bisa panen. Biaya produksinya hanya Rp 25 ribu meliputi biaya benih, pupuk kandang dan tenaga. Mereka bekerja hanya 4 jam/hari. Dari setiap panen mereka bisa mendapatkan 300 ikat. Ada yang dijual langsung ke warung dan ada juga yang dijual langsung ke rumah tangga dengan harga Rp 500/ikat. Bila dijual ke tengkulak harganya Rp 300/ikat. Untungnya rata-rata 65 ribu/ hari. ”Ada lima desa yang memilih melakukan usahatani sayuran model ini,” tambah Edi Suhardiman.

Sinergi
Setelah para petani paham praktek beragribisnis, mereka perlu modal untuk menerapkannya di usaha taninya masing-masing. Dengan adanya Program Pengembangan Usaha Agribisnis (PUAP) dengan bantuan dana Rp 100 juta/ desa, para petani peserta FEATI terbantu permodalannya.
Menurut Edi Suhardiman ada sekitar 13 desa FEATI yang juga sekaligus desa PUAP. ”Dana dari PUAP yakni Rp 100 juta digunakan untuk pengembangan permodalannya,” tambahnya. Sedangkan di FEATI mereka belajar beragribisnis dengan menerapkan teknologi yang lebih maju, meningkatkan efisiensi usaha dan melakukan kemitraan serta rekayasa kelembagaan untuk meraih pasar komoditi yang diusahakan.
Para petani di kabupaten Serang merasakan dengan adanya FMA ini: perilaku, keterampilan dan sikap (PKS) mereka berubah dan memberikan dampak positif dalam pengembangan usaha tani di lahannya masing-masing. Contohnya apa yang mereka lakukan di lahan percontohan FMA diterapkan di lahannya sendiri.
Feati di Kabupaten Serang ini mulai dilaksanakan pada Oktober 2007 di 15 kecamatan, 40 desa. Kegiatannya meliputi sosialisasi di tingkat kabupaten dengan dinas dan instansi terkait, aparat Pemda, sosialisasi di tingkat kecamatan, hingga ke desa.
Pada tahun 2008 mulai melatih Penyuluh PNS dan penyuluh swadaya. Setiap desa ada dua orang penyuluh swadaya yakni satu laki-laki dan satu perempuan. Juga dilatih 55 orang tim penyuluh lapangan dari 15 kecamatan, melatih 120 petani pengurus FMA. FMA adalah wadah bagi para petani melakukan pembelajaran agribisnis.
Dalam FMA mereka melakukan pembelajaran beragribisnis yang dikelola oleh petani sendiri. Kegiatan itu didahului dengan melakukan identifikasi potensi yang ada di setiap desa, kondisi SDM dan kondisi Sumber Daya Alamnya. Mereka mencoba menemukan permasalahan yang ada, peluang yang ada di desanya dengan menggunakan metode PRA (survey potensi desa).
Berbekal hasil survey itulah mereka menyiapkan program penyuluhan di desanya dan menyiapkan rencana kerja dan akhirnya membuat proposal pembelajaran beragribisnis melalui wadah FMA.
***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: