Oleh: Ahmad Soim | 13 Juli 2010

FMA Desa Wringin Putih, Borobudur, Magelang Belajar dan Berbisnis Permen untuk Ternak

Terdapat 2000 ekor kambing peranakan ettawa (PE) di desa yang hanya dihuni 600 Kepala Keluarga (KK) ini.  Perkembangan populasi kambing yang melebihi jumlah KK ini karena adanya masukan teknologi perkandangan dan pembuatan pakan ternak (permen) yang juga mereka pelajari melalui program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP) atau FEATI.

 

Penyuluh Swadaya untuk program P3TIP di Farmer Managed Extension Activities / Aktivitas Penyuluhan yang Dikelola Petani (FMA) Desa Wringin Putih Hepi Giri Purno mengatakan pemilihan komoditi dan teknologi agribisnis yang diterapkan di desa ini diawali dengan survei penggalian potensi desa.

“Dalam survei itu, kami temukan komoditi yang cocok diusahakan di desa ini adalah agribisnis kambing PE,” kata Hepi.

Hasil suevei itu lalu ditindaklanjuti dengan membuat proposal untuk pembelajaran teknologi dan bisnisnya oleh para petani. “Kami belajar tata laksana kandang, dari lantai tanah menjadi kandang panggung pada tahun 2008,” tutur Hepi yang juga ikut dalam program Sarjana Membangun Desa (SMD). Pesertanya berasal dari lima kelompok tani (poktan). Di desa ini ada 9 dusun, jadi satu poktan untuk dua dusun. Jumlah peserta dari masing-masing poktan dibatasi yakni  2-3 orang/poktan.

Dampak dari pembelajaran itu adalah banyak muncul kandang-kandang panggung kelompok. Muncul juga poktan-poktan lain. Dengan anggota poktan yang makin banyak yakni sampai 25 orang anggota.

Selain itu, di desa ini juga terbentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) agribisnis kambing peranakan ettawa.  “Sekarang dengan adanya program FEATI kegiatan kelompok jadi hidup. Di desa ini sudah ada  12 poktan dan mereka melakukan pertemuan rutin,” tambahnya.

Salah satu kelompok tani yakni Sari Makmur tumbuh menonjol, sekarang bisa berprestasi menjadi juara 1 kelompok ternak kambing tingkat Jawa Tengah.

Menurut Hepi dulu di desa ini hanya 7 orang yang pakai kandang panggung, sekarang hampir semuanya sudah menerapkan teknologi kandang panggung.

Perbaikan teknologi yang dilakukan di desa ini adalah mengawinkan kambing kacang dengan kambing PE,  hasilnya bibitnya ada peningkatan kualitas.  Melalui kelompok, para peternak kambing memupuk modal kelompok dengan membayar iuran  anggota.

“Sekarang kami bisa akses dana Rp 125 juta dari program SMD untuk 30 ekor PE betina, 2 jantan, setelah dipelihara 6 bulan sudah menjadi 42 ekor,” tambahnya Hepi Giri Purno SMD di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

“Dampak lain dari pembelajaran dan usaha agribisnis kambing secara berkelompok ini adalah, kelompok bisa menghasilkan pupuk kandang premium. Sudah ada permintaan pupuk untuk tembakau. Untuk pemasaran pupuk itu kami kelola bersama dalam wadah koperasi,” tambah Hepi.

Modal Koperasi Serba Usaha Kridha Usaha Rakyat/Gabungan Kelompok Tani Desa Wringin Putih KRIDO PUTIH ini diperoleh dari iuran anggota. Koperasi ini juga bergerak di simpan-pinjam atau sudah menjadi Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Permen Ternak

Para petani peternak itu masih ingin terus belajar teknologi baru yang bisa mengingkatkan usaha agribisnis kambingnya dan keuntungan mereka. Lalu, mereka melakukan musyawarah dan diputuskan untuk belajar membuat pakan tambahan, molase blok atau permen ternak.

Bahan-bahannya antara lain katul, molase dan semen.

Pembelajaran teknologi pembuatan permen ternak itu semula mereka rencanakan hanya untuk keperluan anggota kelompok, tetapi masyarakat peternak tertarik dengan permen ini. Sehingga produksi permen ternak ditingkatkan.

Untuk menjangkau pemasaran permen ternak yang lebih luas, Gapoktan melalui Koperasi yang mereka bentuk bekerjasama/ bermitra dengan sebuah perusahaan di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. “Koperasi kami lalu memproduksi molase blok kecil-kecian. Targetnya seminggu bisa produksi 0,5 – 1 ton,” tuturnya. Kendalanya, karena pencetakan dilakukan secara manual maka ukuran dan mutunya masih kurang baik dan stabil.

Harga per kg permen ternak itu mereka jual Rp 4000, biaya yang mereka keluarkan untuk memproduksi permen ternak itu sebesar Rp 1900/kg sudah termasuk tenaganya.

Pada tahun 2010, kelompok ini berencana belajar fermentasi pakan buat complete feed. Dengan teknologi ini mereka berharap setiap orang peternak tidak lagi kesulitan mendapatkan pakan. “Dengan teknologi pakan ini, satu orang bisa pelihara 10 ekor tanpa kerepotan mencari pakannya, karena pakannya sudah bisa diawetkan selama  4 bulan,” jelas Hepi lebih lanjut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: