Oleh: Ahmad Soim | 16 Juli 2010

Indonesia Perlu 30 Juta Ton Pupuk Organik

Menteri Pertanian Suswono mengatakan Indonesia memerlukan 30 juta ton pupuk organik untuk memperbaiki kesuburan lahan sawah. Untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan 30 ribu unit rumah kompos, namun karena keterbatasan anggaran, pemerintah baru bisa memfasilitasi kurang dari 1.000 unit rumah kompos.

Menteri Pertanian Suswono meninjau rumah kompos di Sampang, Madura, Jawa Timur

 Bila penggunaan pupuk organik ini tidak dilakukan maka biaya pengeluaran para petani dalam memproduksi padi akan semakin besar dan tanah sawah semakin rusak dan tidak subur. ”Saat ini kondisi lahan sawah kita kandungan bahan organiknya di bawah 2 persen, itu sudah dalam kondisi kritis,” kata Menteri Pertanian Suswono saat meresmikan rumah kompos Se-Propinsi Jawa Timur di Desa Banceklok, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Jawa Timur.

Penggunaan pupuk organik lanjut Suswono juga menjadi salah satu alternatif bagi pemerintah untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang konsumsinya cukup besar dan semakin tinggi. “Untuk konsumsi pupuk urea saja lebih dari 5 juta ton,” tambahnya.

Menurut perkiraan Mentan total kebutuhan pupuk organik nasional sekitar 30 juta ton per tahun. Hitung-hitungannya, luas panen padi nasional sekitar 12 juta ha/tahun, setiap hektar memerlukan pupuk organik rata-rata 2 ton per ha. Sehingga perlu 24 juta ton pupuk organik. Sisanya 6 juta ton, untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik guna pengembangan SRI (System Of Rice Intensification) organik sekitar 10 % dari luas tanam padi, yaitu seluas 1,2 juta ha dengan dosis pemupukan organik mencapai 5 ton per ha di awalnya. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik nasional sebesar 30 juta ton per tahun itu maka diperlukan rumah kompos 30.000 unit dengan kapasitas masing-masing seribu ton pupuk organik/ tahun. ”Namun pada saat ini karena keterbatasan anggaran, Kementerian Pertanian baru bisa memenuhi sebagian kecil saja,” tambah Suswono.

Sebagai wujud kepedulian pemerintah untuk memperbaiki lahan sawah dan pengembangan pertanian organik, Kementerian Pertanian telah memfasilitasi masyarakat untuk memproduksi pupuk organik secara mandiri melalui pembangunan rumah kompos yang diintegrasikan dengan ternak sapi. ”Pada tahun 2009 yang lalu, Kementerian Pertanian telah mengembangkan rumah kompos sebanyak 154 unit dan tahun ini ditambah APBN-P sekitar 600 unit rumah kompos,” tambah Suswono.

Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air Hilman Manan menjelaskan pada TA 2010 melalui Dana Tugas Pembantuan Ditjen PLA akan dibangun 235 unit rumah kompos tanpa ternak sapi, dan melalui Dana APBN-P TA 2010 juga akan dibangun 300 unit rumah kompos yang diintegrasi dengan ternak sapi. Khusus di propinsi Jawa Timur pada TA 2010 direncanakan akan dibangun rumah kompos sebanyak 63 unit, terdiri dari rumah kompos Dana Tugas Pembantuan sebanyak 19 unit dan rumah kompos terintegrasi dengan ternak sapi APBN-P sebanyak 44 unit.

”Diharapkan dari kegiatan 63 unit rumah kompos tersebut, jika dilaksanakan secara maksimal dapat menghasilkan kompos berkualitas sebanyak lebih dari 63 ribu ton per tahun,” tambah Hilman Manan.

Menurunkan Konsumsi Pupuk An-Organik

Kepala Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur Wibowo Ekoputro mengatakan aplikasi pupuk organik di wilayahnya sebanyak 2 ton/ha/ musim selama tiga kali musim telah berhasil meningkatkan produksi 4 kuintal/ha/musim, dari 5,9 ton/ha/musim menjadi 6,3 ton/ha/musim. “Selain itu, kandungan bahan organik lahan sawahnya naik dari 1,2 persen menjadi 2,5 persen,” tambah Wibowo Ekoputro kepada Sinar Tani. Menurut Ekoputro, Propinsi Jawa Timur memerlukan 10,4 juta ton pupuk organik/tahun, untuk luas panen 1,9 juta ha dengan luas lahan bakunya 1,1 juta ha.

 “Dengan penggunaan pupuk organik itu, konsumsi urea menurun 10 persen, Za turun 5 persen, SP 36 turun 10 persen, tetapi NPK naik 15 persen, dan penggunaan pupuk organik naik 11,5 persen,” tuturnya. Akibat penggunaan pupuk an-organik yang terus naik, sekarang ini belanja usahatani petani di Jawa Timur rata-rata Rp 8,049 juta/ha/musim. Biaya sebesar itu tinggi, termasuk biaya lahan Rp 2 juta/ musim. Kalau tanahnya diperbaiki penggunaan pupuk an organik berkurang 30 persen, maka cukup dengan biaya produksi sebesar Rp 6 juta/ha,” tambah Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Ekoputro.

Pupuk organik menurutnya mutlak diperlukan karena tanah sawah di Jawa Timur kandungan bahan organiknya tinggal 1,7 persen. “Kita tidak berambisi kandungan bahan organiknya naik ke kondisi yang ideal 5 persen, tetapi minimal 3 – 4 persen, syukur-syukur 5 persen,” tambah Wibowo Ekoputro lagi. Propinsi Jawa Timur mentargetkan pupuk kimia bisa turun sampai 30 persen, dengan pro duktivitas yang tetap naik. “Target produktivitas kita naik menjadi 6,2 ton/ha dari 5,9 ton/ha. Oleh karena itu, dalam SL PTT penggunaan pupuk organik mutlak menjadi bagian dari teknologi SL PTT,” tambahnya.

Untuk pengembangan pupuk organik itu, lanjut Ekoputro, Gubernur Jawa Timur menghibahkan kepada kelompok tani sebanyak 2.000 unit alat untuk pembuatan pupuk organik dengan kapasitas 1,1 ton per jam. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: