Oleh: Ahmad Soim | 19 Juli 2010

Petani Kelapa, Potensi Besar Tetapi Kelembagaan Lemah

Menteri Pertanian Suswono mengatakan kelembagaan petani kelapa harus diperkuat supaya mereka bisa menikmati hasil produksinya. Saat ini tanpa ada kelembagaan petani kelapa mereka hanya menjual kopra dengan harga Rp 300-400/kg.

“Kalau harga yang diterima petani masih segitu, maka tidak ada petani yang mau merawat dan meremajakan kebun kelapanya,” kata Menteri Pertanian Suswono dalam Seminar Kelembagaan Perkelapaan Nasional di Jakarta.

Menurutnya bila petani kelapa berhimpun dalam kelembagaan misalnya dalam bentuk koperasi maka mereka akan bisa menahan produksi dan melakukan negosiasi dengen pembeli atau bahkan mengolah produknya menjadi produk olahan. “Sehingga petani bisa mendapatkan nilai tambah di situ,” tuturnya kepada Sinar Tani.

Dirjen Perkebunan Achmad Mangga Barani mengatakan pemerintah sangat berharap ada swasta yang mau mengembangkan industri olahan kelapa. “ Kalau industri itu membeli dengan harga yang layak , dalam bentuk produk olahan, bisa membeli kelapa di atas Rp 1000 karena dibuat  segalam macam produk, bukan hanya membeli kopra paling dengan hanya Rp 300 rupiah/kg, maka petani  kelapa akan bergairah dalam melakukan pemeliharaan dan penanaman baru,” tambahnya. 

Di samping berupaya memperkuat kelembagaan petani, tambah Achmad Mangga Barani pemerintah juga telah mengusahakan peremajaan kelapa sawit tiap tahun namun skalanya masih kecil. “Peremajaan kebun kelapa yang kita danai dari APBN itu  setiap tahun 18 ribuan ha, tapi apakah artinya 18 ribu ha dibandingkan dengan populasi kebun kelapa nasional yang hampir 4 juta ha, itu kan jauh sekali,” papar Achmad Mangga Barani.

 Itu sebabnya lanjut Achmad Mangga Barani Kementerian Pertanian berharap untuk peremajaan kelapa juga ada gerakan khusus seperti pada gerakan nasional kakao. “Kita sudah rumuskan untuk itu, tapi hingga saat ini belum bisa mendapatkan pendanaannya,” tambahnya.

Menurut  Achmad Mangga Barani peremajaan kelapa di Indonesia  harusnya gerakan dari pemerintah karena hampir semua kebun kelapa adala milik rakyat yang perlu dibantu. Namun saat ini  pemerintah bukan tidak sanggup tapi masalah prioritas, harapannya setelah kakao bisa dibuat gerakan nasional kelapa.

Dari 4 juta ha kelapa kira kira hampir 50 persen sudah perlu harus diremajakan sekitar 2 juta ha.

Areal kebun kelapa Indonesia tahun 2009 seluas 3,8 juta ha, terdiri dari 3,748 juta ha (98,18 persen) merupakan perkebunan rakyat, 3,8 ribu ha (0,14 persen) merupakan perkebunan negara dan 55 ribu ha (1,69 persen) merupakan perkebunan swasta.

Luas perkebunan kelapa Indonesia tersebut adalah yang terluas di dunia (31,2 persen) yang disusul Philipina 25,8 persen, India 16,0 persen, Sri Lanka 3,7 persen dan Thailand (3,1 persen). Sedangkan produksi kelapa Indonesia hanya menduduki posisi kedua setelah Philipina. Ragam produksi dan devisa yang dihasilkan Indonesia posisinya di bawah India dan Sri Lanka.

Produksi kelapa tahun 2009 sebesar 3,247 juta ton terdiri dari 3,182 juta ton (98 persen) dari perkebunan kelapa rakyat, 3,02 ribu ton (0,09 persen) dari perkebunan negara dan 62 ribu ton (1,91 persen) dari perkebunan swasta.

Volume dan nilai ekspor produk kelapa Indonesia tahun 2009, kopra 47.301 ton senilai 34.406 dolar AS, minyak kelapa 741.921 ton dengan nilai 769.134 dolar AS, Copra Meal 323.288 ton dengan nilai 125 ribu dolar AS, Kelapa Olahan 138.964 ton dengan nilai ekspor 89.211 dolar AS dan Bungkil 247.022 ton dengan nilai 34.406 dolar AS. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: