Oleh: Ahmad Soim | 29 Juli 2010

LM3 Model Darussalam Kabupaten Semarang: Beternak Sapi Bermitra dengan Masyarakat

Kartono (35) santri Pondok Pesantren (PP) Darussalam, Bergas, Kabupaten Semarang tengah membakar rumput kering untuk menghangatkan 25 ekor sapi yang dipeliharanya. “Saya  per bulan rata-rata dapat penghasilan Rp 750 ribu. Makan saya, istri dan dua orang anak dari pak Kiyai. Tugas saya mencari rumput, memberi makan sapi sampai  kenyang, dan membersihkan kandang,” ujar Kartono.

KH Murodi dan Peternakan Sapinya

LM3 Darussalam Semarang

 

Adalah KH Murodi (42) pimpinan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3)  PP Darussalam itu. Kiyai yang rajin puasa setiap hari ini mengatakan pilihannya  untuk beternak sapi karena dorongan agar pesantren dan santrinya kaya. ” Sapi itu dalam pandangan agama Islam termasuk ternak yang  zakati. Zakat itu orang kaya. Jadi yang memelihara sapi kan orang kaya,” ujarnya.

 Usaha beternak sapi di PP Darussalam dimulai dari skala  kecil dan dikelola pesantren sendiri. “Waktu itu sapi yang kita pelihara 10 ekor.  Saya pelihara sendiri bersama santri,” tambah Kiyai Murodi.

Pada tahun 2005/2006, PP ini mendapatkan dana bantuan langsung masyarakat (BLM)   Rp 180 juta dari Departemen Pertanian melalui program Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) Agribisnis untuk pengembangan agribisnis  penggemukan sapi potong. Sejak itu, jumlah sapi yang dipelihara pesantren bertambah. “Sekarang sapi yang dikelola pesantren sudah menjadi 125 ekor,” tambah Kiyai.
Sebagian sapi tersebut dikelola bersama dengan masyarakat dengan sistem gaduh, bagi hasil keuntungan 50 persen untuk pesantren dan 50 persen untuk pemelihara.

Usaha penggemukan sapi potong menurut Kiyai Murodi adalah usaha yang menguntungkan. “Harga daging sapi tak pernah turun, mengikuti dolar, bahkan dalam kondisi tertentu seperti hari raya Idul Fitri dan Hari Raya Kurban harganya tinggi,” tambah Kiyai yang terbiasa puasa setiap hari, kecuali hari-hari yang diharamkan berpuasa.

Kendala yang dihadapi para peternak, umumnya mereka tidak mampu mengelola penjualannya. “Tengkulak yang masih menentukan harga, dengan mengatur berapa ekor sapi yang dipotong,” tambahnya.

Masalah lain yang dihadapi peternak sapi adalah ketersediaan pakan secara kontinyu. Kendala ini disiasati pesantren dengan membuat kebun hijauan pakan.  “Untuk penyediaan rumput, pesantren membuat kebun rumput sekitar 3,5 ha,” jelas Kiyai Murodi.

Setelah dihitung-hitung, untung dari penggemukan sapi lebih dari cukup. “Dalam tiga bulan, keuntungan yang kita peroleh tidak kurang Rp 2 juta, paling minim Rp 1,5 juta,” jelasnya.

Tapi ada juga bulan-bulan tertentu harga daging sapi turun. Misalnya pada saat dan menjelang anak-anak masuk sekolah. Pada saat itu, banyak peternak menjual sapinya untuk membiayai anaknya masuk sekolah. Sementara kebutuhan daging sapi mengalami peningkatan, akibatnya harga sapi menurun.

Tersebar di 16 Kecamatan

Kemitraan penggemukan sapi sistem gaduh antara PP Darussalam dengan masyarakat tersebar di 16 kecamatan sekitar lokasi pesantren. Ada masyarakat yang hanya mampu memelihara 1 ekor sapi, tapi juga ada yang mampu memelihara 3 sampai 4 ekor sapi.

Keberhasilan pesantren mengelola kemitraan penggemukan sapi sistem gaduh ini membawa dampak positif pada citra pesantren. Jumlah santri bertambah. Yang dulu cuma 40-50 santri sekarang santrinya sudah mencapai 525, sebanyak 160 diantaranya santri wanita. 

Semua santri dilibatkan dalam usaha agribisnis pesantren. “Santri terlibat bahkan ikut  bertanggung jawab maju mundurnya peternakan. Mereka bergiliran mencari rumput, bersih-bersih kandang, dan memeberikan  pakan tambahan,” tambah Kiyai Murodi.

Bagi Kiyai Murodi  santri wajib bekerja, nggak boleh pulang hanya klencar klencer (tidak punya keahlian dan pekerjaan).

 Setiap santri yang sudah pulang (tamat) lalu dia mendirikan pesantren, maka PP Darussalam membantu modal untuk penggemukan sapi, yakni Rp  20 juta  yang bisa dibelikan 4 ekor sapi. Hasil keuntungan usaha penggemukan sapi itu semuannya untuk mantan satrinya. Misalnya, kalau jadi Rp 30 juta, maka yang Rp 10 juta untuk pesantren milik mantan santrinya, yang Rp 20 juta dikembalikan ke Kiyai Murodi.

Sekarang sudah ada sekitar 30 santrinya yang sudah membangun pesantren. Semua santri di PP Darussalam gratis. Namun mereka dilibatkan usaha pertanian yang dikelola pesantren. Mereka diajarkan keterampilan bertani dan penggemukan sapi.

Untuk penggemukan sapi cara yang dianjurkan pesantren yakni harus memakai obat Calbasen (produksi Boyolali Jawa Tengah). Obat ini bisa menghilangkan cacing dan penyakit yang ada di perut sapi. Cara pemakainnya cukup sekali suntik melalui mulut selama pemeliharaan. Dosis yang digunakan 20 cc/ekor dengan bobot 3,5 kuintal.

Agar antara waktu ngaji dan waktu kerja santri tidak bentrok, maka pesantren membuat jadwal ngaji dan kerja. “Kalau siang, ada santri yang giliran kerja, ada yang mengaji. Tetapi kalau malam semua santri ngaji,” jelas KH Murodi.

Selain peternakan sapi, PP Darussalam juga mengelola sawah padi 5 ha, kebun cabe 1 ha, kebun cengkeh, kebun kopi dan kebun pohon jadi 10 ribu pohon. Kalau untuk mengelola pertanian tersebut diperlukan banyak tenaga maka bila perlu semua santri dilibatkan, seperti kalau tengah tanam padi.

Selain itu, PP Darussalam dan santrinya banyak melakukan amalan doa seperti istighosah, riyadhoh dan mujahadah. “Saya sendiri puasa terus-terus menurus, kecuali hari yang dilarang puasa, sudah 30 tahun saya lakukian in demi  tujuan pesantren berhasil,” kata KH Murodi.

Tempat Pelatihan

Banyak kalangan sudah mulai berlatih dan magang penggemukan sapi di PP Darussalam, di antaranya masayarakat umum (kelompok tani), mahasiswa dari Universitas Darul Ulum Islamic Centre (Undaris), Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah.

Kepala mereka yang ikut pelatihan dan magang KH Murodi menjelaskan tip membeli bakalan/bibit untuk digemukkan.

“Cara penggemukan yang baik  beli bibit sapi yang poel atauompong. Karena sapi yang poel tinggal isi daging. Sapi itu umur dua tahunan,” kata KH Murodi. Ilmu itu menurutnya diperoleh dari mempelajari kitab Fathul Mu’in di bab bahasan zakat. Bila bibitnya seperti itu, maka dalam waktu 3 bulan saja, kita bisa mendaparkan keuntungan  tidak kurang Rp 2 juta atau paling minim Rp 1,5 juta. 

Untuk pelatihan dan magang itu masih menggunakan satu ruangan di pesantren. Namun setelah mendapatkan bantuan dari Badan Pengembangan SDM Pertanian Departemen Pertanian Rp 100 juta untuk LM# Model, kini PP Darussalam sedang membangun tempat dan penginapan untuk pelatihan dan magang bagi masyarakat umum yang ingin belajar pertanian.

KH Murodi menjelaskan manajemen pesantren dan LM3 PP Darussalam sudah dilakukan secara terpisah. Untuk LM3 PP Darussalam sudah ada pengurusan dan rekening sendiri terpisah dengan pengurus dan rekening pesantren. Untuk pesantren yang menjadi penanggungjawab adalah istri KH Murodi. Serangkan untuk LM3 PP Darussalam dipegang langsung oleh KH Murodi.

 Kartono (35) salah satu santri yang saat ini ikut mengelola bisnis penggemukan sapi LM3 PP Darussalam mengatakan sangat senang dengan pekerjaan ini. “Saya nyantri di sini 14 tahun. Saya memelihara sapi sejak jadi santri.  Rata rata 20-25 ekor per periode, kemaren baru dijual. Saya per bulan dapat Rp 750 ribu,” katanya. Dia merasa inilah satu-satunya keterampilan yang diperolehnya dari nyantri.

Sebagai petani, cita-cita Kartono tidak banyak. “Yang penting jadi orang baik, cari ekonomi (rizqi) tidak sulit. Kalau mau jadi kiyai juga, berat tanggung jawabnya,” tuturnya.***.

================

KH Murodi

Membuktikan Bahwa Santri bisa Makan

 

 

“Cita cita saya sebagai Kiyai adalah mau memberikan contoh dan membuktikan kepada masyarakat, supaya masyakat paham bahwa santri tak seluruhnya nggak bisa makan,” kata Pimpinan LM3 PP Darussalam KH Murodi (42).

KH Murodi dan para santrinya

KH Murodi dan para santrinya

 

KH Murodi amat yakin bahwa kalau santri dan pesantren berusaha dalam bidang penggemukan sapi akan bisa kaya. Hal ini ia sarikan dari materi zakat yang diajarkannya kepada santrinya. “Sapi itu termasuk hewan yang harus dikeluarkan zakatnya. Yang membayar zakat adalah orang kaya. Jadi yang beternak sapi adalah orang kaya,” jelasnya.

Dari kitab Fathul Mu’in bab tentang zakat, KH Murodi menyimpulkan sapi yang akan memberikan keuntungan makasimum bila digemukkan adalah sapi yang poel atau ompong, umurnya sekitar 2 tahun. Teknik inilah yang juga ditularkan kepada santri dan masyarakat umum yang belajar pertanian di sini.  

Menurutnya santri itu wajib bekerja, nggak boleh pulang klencar-klencer (hanya bolak balik) tak punya pekerjaan alias mengandalkan sumbangan atau pemberian orang lain. “Maka setiap santri yang tamat dan pulang mendirikan pesantren, mereka kita pinjami modal Rp 20 juta untuk dibelikan 4 ekor sapi. Kalau dalam tiga bulan modal itu menjadi Rp 30 juta, yang Rp 10 juta untuk pesantrennya, dan yang Rp 20 juta dikembalikan ke saya,” tambahnya.

Keuntungan usaha itu lanjut KH Murodi dimaksudkan agar santrinya itu bisa membangun dan mendirikan pesantren secara swadaya. Sudah ada 30 santri (putri dan putri) yang mereka tamat dan mendirikan pesantren dengan hasil menggemukkan sapi seperti ini. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: