Oleh: Ahmad Soim | 2 Agustus 2010

Kisah Petani Belajar dari Petani

Gagasan awal pelatihan bagi petani oleh petani muncul pada Pekan Nasional Kelompok Kontak Tani-Nelayan Andalan (KTNA) V pada tanggal 20-25 Agustus 1983 di Lampung Tengah. Gagasan itu terus dibahas dan dikembangkan pada berbagai kesempatan, antara lain dalam Rembug Harian Kelompok KTNA Nasional dan pertemuan-pertemuan dengan Departemen Pertanian.

Gagasan tersebut dimatangkan dalam Seminar “Magang Petani, Belajar dari Petani” pada tanggal 24 November 1984 di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, yang dihadiri Kepala Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian Ir. Salmon Padmanegara dan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Ir. Arifin Mukaddas, M.Sc, Kepala Balai Informasi Pertanian Kayuambon Ir. Zachir Zachri, M.Ed, dan Ketua Kelompok KTNA Nasional H. Oyon Tahyan, serta Pengurus Kelompok KTNA se-Jawa Barat.

Namun demikian, praktek petani belajar dari petani sudah berlangsung sebelum tahun 1984. Kontak tani maju, berhasil dan sukses telah memprakarsai hal itu. Antara lain: H. Djuhiya, H. Siroj, dan Kadir Rasyidi. Mereka memberikan kesempatan bagi petani untuk magang di pusat-pusat pelatihan petani yang dibentuk oleh mereka sendiri. Nama tempat pusat pelatihan masih beragam.

Menyadari meluasnya pembentukan pusat-pusat pelatihan petani dengan nama yang berbeda-beda, untuk memudahkan koordinasi dan pembinaannya, Kepala Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian Ir. Syamsuddin Abbas menamai pusat pelatihan bagi petani oleh petani ini dengan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya atau disingkat P4S pada tahun 1990. Dalam perkembangannya, pada tahun 1993 tercatat telah tumbuh 14 P4S, kemudian menjadi 46 P4S pada tahun 1995, dan menjadi sejumlah 708 P4S per Desember 2008. Pemerintah mentargetkan minimal ada dua P4S di setiap kabupaten.

Guna mengukuhkan keberadaan kelembagaan P4S dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan terhadap P4S sebagai mitra pemerintah dalam pengembangan SDM pertanian, yang ditetapkan melalui Permentan Nomor 03/Permentan/PP.410/1/2010, tanggal 20 Januari 2010 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Pelatihan Pertanian Swadaya.

Menyadari pentingnya, kelembagaan magang dari dan oleh petani untuk memajukan dan menyejahterakan petani, Kementerian Pertanian pun terus berinovasi kelembagaannya. Salah satunya, melibatkan kelembagaan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). Termasuk LM3 adalah pesantren agribinsis, atau kelembagaan agama lainnya yang memiliki usaha agribisnis, seperti seminari dan subak. Keberadaan LM3 Agribisnis itu pun berhasil mewarnai asupan teknologi dan manajemen agribisnis di kancah pembangunan pertanian Indonesia belakangan ini. Di antaranya dengan lahirnya LM3 Agribisnis Model. LM3 Model juga dikembangkan Kementerian Pertanian menjadi pusat pelatihan dan magang untuk petani dan masyarakat yang berminat terjun di agribisnis, sama seperti yang diperankan P4S.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: