Oleh: Ahmad Soim | 13 Agustus 2010

PENGEMBANGAN ESTATE PANGAN DAN ENERGI (MIFEE) DI MERAUKE PAPUA

Grand Launching Pengembangan Pangan dan Energy Skala Luas ( Food and Energy Estate ) di Merauke atau Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) telah dilakukan Menteri Pertanian Suswono pada Rabu 11 Agustus 2010 di Kampung Serapu, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua.

Mentan suswono menyerahkan grand disain MIFEE kepada gubernur papua Suebo. Gubernur berharap program ini bisa benar-benar berhasil.

Mentan suswono menyerahkan grand disain MIFEE kepada gubernur papua Suebo. Gubernur berharap program ini bisa benar-benar berhasil.

Lahan MiFEE Merauke Papua

Lahan MIFEE Merauke Papua

klaster peertanian terpadu di MiFEE MERAUKE

 

“Grand Laounching ini merupakan salah satu komitmen kuat dari pemerintah untuk memantapkan ketahanan pangan dan sekaligus mensejahterakan masyarakat khususnya masyarakat lokal,” kata Mentan Suswono di Merauke, Papua.

Dijelaskannya kegiatan ini juga untuk melaksanakan Inpres No.1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional khususnya Rencana Aksi Pengembangan Lahan Pangan Skala Luas ( food estate ) yang ramah lingkungan dan tidak merusak pranata sosial setempat.

Pengembangan wilayah Merauke tersebut dilakukan pemerintah karena potensi kawasan sentra agribisnis pangan dan enerji (terbarukan) di Merauke sangat besar yakni seluas 2,5 juta hektar dengan kondisi kesuburan lahan yang cukup baik. Potensi ini merupakan keunggulan comparative yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Selama ini, daerah-daerah potensial di luar Jawa yang memiliki cadangan lahan yang cukup luas belum dikembangkan sebagai kawasan sentra produksi pangan seperti halnya 12 juta Ha di kawasan Selatan Papua, serta daerah lainnya seperti di Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi dan Pulau Sumatera.

Tujuan pemerintah mengembangkan kawasan ini lanjut Mentan pertama,  untuk memperkuat stock atau cadangan pangan dan bio energi nasional dalam rangka memantapkan dan melestarikan ketahanan pangan nasional. Kedua, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Merauke. Ketiga, menghemat dan menghasilkan devisa bagi negara. Keempat, mempercepat pemerataan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia sekaligus mengurangi kesenjangan antar wilayah dalam rangka memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kelima, menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Dan keenam, meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah sekaligus memberi kontribusi kepada pertumbuhan perekonomian nasional.

Suswono menjelaskan ada lima pertimbangan pemerintah menenetapkan Merauke sebagai lokasi Food Estate, yakni  pertama, dalam RTRWN (PP 26/2008) Merauke ditetapkan sebagai kawasan andalan dengan pertanian sebagai sektor unggulannya. Kedua, Merauke memiliki lahan potensial untuk pertanian sangat luas (2,5 juta ha) dengan topografi datar dan  subur ditunjang oleh agroklimat yang sesuai. Ketiga, berbagai tanaman pangan tumbuh dengan baik di kawasan ini antara lain padi, jagung, kedele, shorgum, gandum dan hortikultura. Keempat, Merauke memiliki savana yang luas untuk peternakan (sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, kangguru dan rusa). Dan kelima Merauke memiliki pantai, sungai dan rawa untuk pengembangan perikanan.

Namun salam proses penyepakatan RTRW Provinsi Papua dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Merauke antara Tim Teknis Badan Koordinasi Penetapan Ruang Nasional (BKPRN) dan Pemda Provinsi Papua dan Pemda Kabupaten Merauke, telah disepakati luas lahan untuk pengembangan MIFEE seluas 760.897 ha sebagai lahan pengembangan MIFEE tahap awal, sedangkan untuk menggenapi luas lahan sampai dengan + 1 juta ha akan dilakukan secara bertahap.

Landasan hukum pemerintah mengembangkan usaha budidaya tanaman skala luas termasuk di Merauke adalah Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 2010. Dalam PP tersebut antara lain diatur: a) Penetapan luas maksimum lahan untuk setiap jenis usaha budidaya tanaman, didasarkan pada ketersediaan, kesesuaian dan kemampuan lahan serta pelestarian fungsi lingkungan hidup; b) Luas maksimum lahan untuk pengusahaan budidaya tanaman, yaitu 10.000 hektar; c) Untuk wilayah Papua, luas maksimum lahan usaha dapat diberikan dua kali luas maksimum tersebut, yaitu 20.000 ha; dan d) ketentuan luasan maksimum lahan tidak berlaku untuk Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah.

Pemanfaatan lahan tersebut dilakukan secara bertahap, yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang pada Areal Pengembangan lain (APL) dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK) (lihat Tabel.)

PENTAHAPAN PENGEMBANGAN MIFEE

 

Pendekatan Pengembangan MIFEE

POLA KEMITRAAN MASYARAKAT DENGAN INVESTOR MIFEE

Desain pengembangan kawasan pangan dan energi skala luas (food and energy estate) di Merauke ini jelas Mentan dirancang berdasarkan empat pendekatan, yaitu  (a) pendekatan pengembangan wilayah (cluster), (b) pendekatan integrasi sektor dan subsektor, (c) pendekatan lingkungan berkelanjutan dan (d) pendekatan pemberdayaan masyarakat lokal (local community development).

Pendekatan program pengembangan wilayah dilakukan secara terpadu antar multi sektor terkait yang dikelola dengan satu sistem manajemen terpadu, dengan pengembangan Klaster Sentra Produksi Pertanian (KSPP), serta penetapan komoditas unggulan berdasarkan potensi dan kesesuaian lahan.

Pendekatan Integrasi Sektor dan Sub Sektor (dalam rangka mendorong program diversifikasi pangan dan bidang usaha), dilakukan untuk mengatasi kendala keterbatasan infrastruktur publik dan pewilayahan komoditi pangan didasarkan kepada kajian dan pemetaan Agro Ecological Zone (AEZ).

Pendekatan lingkungan berkelanjutan dilakukan melalui penataan alokasi pemanfaatan ruang yang seimbang antara kepentingan konservasi lingkungan dengan kepentingan usaha budidaya tanaman pangan dan energi dengan memberikan arahan bagi pengembangan kawasan agar memperhatikan prinsip-prinsip dan kaidah konservasi seperti : tidak berada pada kawasan hutan konservasi atau lindung serta hutan produksi bervegetasi baik; tidak berada pada areal penting bagi lingkungan seperti High Conservation Value Forest dan kawasan gambut, tidak berada pada tempat penting masyarakat adat seperti tempat sakral, sumber air dan konservasi adat.

Pendekatan lingkungan juga memberi arahan agar lokasi pengembangan diprioritaskan kepada kawasan dengan status Alokasi Penggunaan Lainnya (APL) dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK).  Selain itu, untuk mengurangi lepasnya CO2 ke udara yang dapat berkontribusi pada pemanasan global akibat pembukaan lahan pada kawasan food and energy estate, maka dilakukan mitigasi emisi Carbon dengan penerapan prinsip zero burning (pembukaan lahan tanpa bakar).

Pendekatan pemberdayaan masyarakat lokal dan pengembangan perekonomian local (Local Community and Economic Development) dilakukan dengan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pangan dan energi skala luas (Food and Energy Estate) di Merauke, melalui kemitraan antara masyarakat lokal dengan investor, yang mengedepankan prinsip berkembang bersama sebagai kesatuan mitra pembangun dan mitra usaha, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal (Local Wisdom). Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: