Oleh: Ahmad Soim | 16 Agustus 2010

Stok Gula Nasional Akhir 2010 dan Pabrik Gula Tua

Produksi gula dalam negeri pada semester II 2010 (Juli – Desember) ini diperkirakan tidak cukup menggembirakan. Di antara penyebabnya adalah tingginya curah hujan sehingga rendemen menyusut dan produksi gula menjadi rendah. Khabar lain: ternyata masih ada pabrik gula tua di Indonesia.

Pabrik Gula PT INdustri GUla Nasional di Cepiring, Jawa Tengah

Pabrik Gula PT INdustri GUla Nasional di Cepiring, Jawa Tengah

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi di pabrik gula PT IGN

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi di pabrik gula PT IGN

Pabrik Gula Tua di PT IGN Cepiring

Bayu Krisnamurthi dan Dirut PT IGN melihat bagian pabrik gula tua

Bayu Krisnamurthi dan Dirut PT IGN melihat bagian pabrik gula tua

Wamentan Bayu Krisnamurthi di bagian pabrik gula tua PT IGN Cepiring

Wamentan Bayu Krisnamurthi di bagian pabrik gula tua PT IGN Cepiring

Wamentan Bayu Krisnamurthi di salah satu bagian Pabrik Gula Tua di PT IGN Cepiring

Wamentan Bayu Krisnamurthi di salah satu bagian Pabrik Gula Tua di PT IGN Cepiring

Karena kondisi seperti itu diprediksikan pasokan gula kristal putih pada akhir tahun ini tidak cukup aman karena stoknya pas-pasan yakni hanya 800.000 ton. volume stok akhir tahun yang dinilai aman adalah sebanyak 1,2 juta ton untuk memenuhi permintaan pasar sepanjang Januari-Mei 2011. Pada periode tersebut pabrik gula di dalam negeri tidak berproduksi. Ini artinya terdapat kekurangan stok sebanyak 400.000 ton.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan saat ini stok gula nasional dalam kondisi yang aman. Hanya dia membenarkan akan kemungkinan terjadinya sedikit hambatan pasokan gula kristal putih untuk konsumsi (GKP/gula konsumsi) pada akhir tahun.

Untuk industri makanan dan minuman skala besar tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pemanisnya, karena mereka umumnya sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan industri gula rafinasi. ”Umumnya mereka kontrak untuk jangka waktu 6 bulan ke depan,” tambahnya.

Yang ditakutkan adalah kebutuhan gula bagi industri makanan dan minuman kecil dan menengah, kalau mereka tidak mendapatkan gula rafinasi maka mereka akan  menggunakan GKP. Kondisi ini maka akan mengurangi pasokan gula konsumsi.

“Hal yang harus diselesaikan dalam kondisi itu adalah memenuhi kebutuhan GKR (gula kristal rafinasi) sehingga tidak akan merecoki stok GKP,” kata Bayu di Jakarta. Untuk itu, kata Bayu, pemerintah memberikan izin impor lebih awal bagi industri GKR yang memiliki kontrak dengan industri makanan dan minuman.

Sedangkan untuk impor gula konsumsi, menurut dia, pasti dilakukan namun pemerintah belum mengetahui secara pasti bentuk impor yang akan dilakukan. “Kita belum tahu impor raw sugar atau GKP,” tuturnya.

Apabila defisit pasokan ini benar-benar terjadi, harga gula untuk rumah tangga berpotensi melambung yang membuat konsumen menjerit. Sekadar tahu saja, kebutuhan gula putih cukup besar yakni sekitar 200.000-250.000 ton per bulan.

Bayu mengungkapkan harga gula di pasaran dunia pada Oktober dan setelahnya cenderung mengalami penurunan. Dengan kondisi pasar dunia seperti itu Bayu memperkirakan pada saat itu banyak negara produsen gula tengah panen. Indonesia bisa masuk pasar untuk ikut membeli gula.

Hanya saja Bayu Krisnamurthi juga memahami keinginan petani tebu agar impor gula tidak menurunkan harga. Menurutnya keinginan petani ini masih bisa dijaga pemerintah, dengan cara mengatur impor, distribusinya dan penetapan harga gula petani sehingga tidak mengganggu harga gula produksi petani di dalam negeri.

Dalam kondisi pasar gula seperti itu, Perum Bulog meminta agar pemerintah segera membuka pintu impor untuk menambah stok di gudang. Permintaan ini terkait dengan kebijakan pemerintah yang sedang dalam proses penunjukan Bulog sebagai pengendali pasokan gula di dalam negeri, sebagai bagian dari awal kebijakan one gate policy dalam tata niaga gula.

Dalam kebijakan itu, Bulog akan membeli dan menguasai seluruh gula yang diproduksi oleh BUMN produsen gula, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), serta mengelola stok nasional guna menstabilkan harga pada level yang wajar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: