Oleh: Ahmad Soim | 3 September 2010

Sapi Impor Bermasalah Dijual Murah untuk Lebaran

Untuk ikut mengatasi tingginya harga daging menjelang lebaran dan telah memberatkan konsumen, Ditjen Peternakan dan Badan Kerantina Pertanian Kementerian Pertanian sepakat untuk menggunakan sapi impor yang melanggar persyaratan impor untuk pasar lebaran dengan harga terjangkau. Kepada importirnya tetap diberi sanksi sesuai peraturan.

Menteri Pertanian Suswono melakukan suntik inseminasi buatan (IB) pada sapi di NTB

Menteri Pertanian Suswono melakukan suntik inseminasi buatan (IB) pada sapi di NTB

Kepala Badan Karantina Pertanian Hari Priyono dalam keterangan pers tertulisnya menyebutkan pada bulan Mei 2010 lalu Kementerian Pertanian telah menahan ternak sapi bakalan dari Australia dengan Surat Persetujuan Pemasukan ((SPP) kadaluwarso sebanyak 2.156 ekor, serta sebanyak 1.617 ekor sapi yang melanggar ketentuan berat badan.

Sapi-sapi tersebut saat ini masih ditahan di beberapa Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) di bawah pengawasan Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok dan Balai Karantina Kelas I Bandar Lampung.

Ditjen Peternakan sebelumnya telah memutuskan sapi=sapi impor itu untuk di re-ekspor, namun ternyata importir kesulitasn untuk melakukannya karena: 1) Australia menolak kembali sapi tersebut ke wilayahnya, 2) kesulitan memperoleh persetujuan impor dari negara ketiga, 3) importir kesulitan memperoleh kapal khusus hewan, karena Indonesia memang saat ini belum memiliki kapal seperti itu.

Pada saat yang sama, saat ini lanjut Hari Priyono masyarakat dan pemerintah tengah menghadapi melonjaknya harga komoditi pangan strategis, di antaranya daging sapi. Untuk beberapa komoditi pangan telah cenderung turun, namun untuk daging sapi masih bertahan tinggi, sehingga tidak kondusif saat lebaran.

“Minyikapi situasi daging sapi sapi menjelang lebaran yang tinggi dan memberatkan konsumen, serta pengaruhnya terhadap inflasi maka pada Rapat Stabilitasi Pangan tanggal 1 September 2010, Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Perdagangan memberikan arahan kemungkinan sapi bakalan impor yang ditahan untuk dimanfaatkan bagi pasar daging sapi dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat di beberapa kota,” tambah Hari.

DPR pun memahami kesulitan re-ekspor sapi impor tersebut dan mengharapkan agar sapi itu bisa dimanfaatkan untuk pasar murah mengantisipasi kenaikan harga daging sapi yang semakin memberatkan masyarakat menjelang lebaran.

Selain itu, sapi-sapi impor tersebut sudah ditahap selama 3 bulan, dan sejak bongkar dari kapal hingga masa penahanan saat ini 69 ekor di antaranya telah mati.

Atas dasar semua itu, maka Kementerian Pertanian yakni Ditjen Peternakan dan Badan Karantina Pertanian memutuskan sapi-sapi impor bermasalah tersebut dimanfaatkan untuk pelaksanaan pasar daging sapi dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat di beberapa kota antara lain SKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Medan, Aceh.

Sedangkan importinya tetap dikenai sanksi sesuai peraturan yang berlaku yaitu: 1) selama 6 bulan tidak diberikan ijin persetujuan impor, 2) semua biaya selama penahanan menjadi beban importir, 3) biaya operasional pemotongan sapi hingga distribusi menjadi beban importir.

“Pengawasan penyelenggaraan daging dengan harga terjangkau ini dilakukan oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan Pemda Setempat,” tambah Hari Priyono. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: