Oleh: Ahmad Soim | 3 September 2010

Untung BULOG Tergantung Lobi dengan DPR

Untuk bisa meningkatkan daya saingnya, maka fungsi organisasi dan sistem manajemen Sumberdaya Manusia (SDM) Bulog harus ditingkatkan dan bukan sekedar operasional pengelolaan kepegawaian. Seluruh proses dalam manajemen SDM Bulog harus ditata ulang dan dilengkapi dengan sistem sekalas perusahaan yang memiliki reputasi baik di bidang manajemen SDM.

 

Hal itu dikatakan Menteri Petanian Suswono dalam ujian doktornya (S3) di Institut Pertanian Bogor dengan judul disertasi: “Strategi Peningkatan Daya Saing Organisasi Logistik Pangan Nasional yang Berkelanjutan: Studi Kasus Bulog”. Suswono dinyatakan lulus sebagai Doktor dalam program studi Manajemen dan Bisnis di IPB, Jum’at 3 September 2010 dengan Ketua Komisi Pembimbing Dr Arief Daryanto, anggota: Prof Bustanul Arifin dan Prof Husein Sawit. Penguji tertutup dari luar: Prof Endang Gumbira dan Dr. Harianto. Serta penguji ujian terbuka: Dr Mustafa Abubakar dan Prof Hermanto Siregar.

Suswono mengatakan mengambil topik disertasi tersebut karena kegalauannya ketika menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Komisi IV yang antara lain membidangi  pertanian, perikanan, kehutanan dan Bulog. “Saya melihat Bulog memiliki aset yang luar biasa, tetapi kinerjanya saya tidak puas,” tuturnya. Itulah yang membuat Mentan ini melakukan penelitian untuk menemukan indikator penilaian kinerja Bulog dan peta strategi Bulog kedepan supaya berdaya saing dengan perusahaan swasta di dalam negeri maupun lembaga sejenis dan swasta di luar negeri.

Untuk penelitian ini Suswono memilih  menggunakan pendekatan balanced scorecard (BSC) guna mengkaji alat ukur pencapaian daya saing BULOG untuk dirumuskan dalam bentuk sasaran strategik, key performance indicator (lag indicator dan lead indicator), dan inisiatif strategik yang disusun dalam kerangka BSC untuk dua fungsi Bulog yakni: 1) bisnis Public Service Obligation (PSO) dan non PSO.

Menurut hasil penelitiannya peran Bulog masih perlu fokus di bisnis PSO namun tetap menjalankan fungsi yang lain yakni non PSO. Dalam menjalankan bisnis PSO, Bulog masih dimungkinkan mendapatkan keuntungan. “Besar keuntungannya tergantung lobinya ke DPR,” tambah Suswono yang pernah menjadi anggota DPR di Komisi IV yang antara lain membidangi masalah Bulog. Keuntungan itu menurutnya penting bagi Bulog agar lembaga ini tetap eksis dan berdaya saing secara berkelanjutan sekaligus bisa menyejahterakan karyawannya. “Untuk itu Bulog juga harus mampu menentukan harga yang ideal,” tambahnya.

Dari empat perspektif BSC BULOG untuk fungsi bisnis PSO, Suswono memaparkan sasaran strategiknya terdiri dari: (i) perspektif keuangan sebanyak 7 sasaran strategik, di antaranya meningkatnya kemampuan untuk menentukan harga jual yang ideal dan mempertahankan delta (keuntungan); (ii) perspektif pelanggan sebanyak 3 sasaran strategik, di antaranya rumah tangga sasaran memperoleh beras dengan jumlah mutu, harga, waktu, dan tempat yang tepat serta petani memperoleh jaminan pasar dengan harga yang wajar; (iii) untuk perspektif bisnis internal dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, fungsi bisnis PSO dan fungsi bisnis non PSO memiliki jumlah sasaran strategik yang sama karena kedua fungsi ini masih dijalankan dalam satu organisasi dan belum ada pemisahan sumber daya.

Sedangkan dari empat perspektif BSC BULOG untuk fungsi non PSO, lanjut Suswono sasaran strategiknya terdiri dari: (i) perspektif keuangan sebanyak 10 sasaran strategik, di antaranya meningkatkan penjualan dan menurunnya persentase biaya operasional; (ii) perspektif pelanggan sebanyak 4 sasaran strategik, di antaranya mampu memberikan produk dan layanan yang bercitra positif dan juga kompetitif kepada pelanggan, serta mampu memberikan jaminan ketepatan waktu pengiriman barang kepada pelanggan; (iii) perspektif bisnis internal sebanyak 10 sasaran strategik, di antaranya kemampuan menguasai industri hulu dan mampu memberikan jaminan mutu barang yang dikirim kepada pelanggan; (iv) perspektif pertumbuhan dan pembelajaran sebanyak 14 sasaran strategik, di antaranya mengembangkan value creation bagi organisasi dan kemampuan memetakan kebutuhan sumber daya organisasi untuk bisnis 5 tahun yang akan datang.

Selanjutnya Suswono menyarankan pertama implementasi BSC tersebut memerlukan dukungan yang kuat dari manajemen, terutama pada tingkat Direksi, sehingga disarankan setiap Direksi berperan aktif mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan seluruh aktivitas yang diperlukan dalam mengimplernentasikan BSC.

Kedua, mengingat pentingnya aspek pembelajaran dan pertumbuhan dalam meningkatkan daya saing BULOG, rnaka fungsi organisasi dan sistem manajemen SDM harus ditingkatkan ke tataran yang lebih strategis, bukan sekedar operasional pengelolaan kepegawaian. Seluruh proses dalam manajemen SDM ditata ulang dan dilengkapi dengan sistem sekelas perusahaan yang memiliki reputasi, baik di bidang manajemen SDM.

Ketiga, sebagai bentuk penyempurnaan implementasi BSC di BULOG, penelitian lanjutan dapat difokuskan pada evaluasi pelaksanaan dan hasil pengukuran kinerja BULOG secara periodik. Selain itu, penelitian lanjutan untuk mendalami masalah alternatif dan prioritas program kerja (action plan) yang lebih rinci dengan menggunakan metode yang tepat agar program kerja yang diprioritaskan selalu fit and proper dengan dinamika internal dan eksternal organisasi BULOG. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: