Oleh: Ahmad Soim | 20 November 2010

Alternatif Teknologi Pupuk Kedepan

Penggunaan pupuk organik modifikasi dengan takaran 750 kg/ha bisa meningkatkan produksi padi sebesar 2,55 ton/ha dibanding penggunaan pupuk kimia konvensional dengan dosis: 200 urea/ha + 100 kg SP-36 + 50 kg KCl/ha. Sedangkan penggunaan urea berselaput nimba dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen, menghambat nitrifikasi dan mengurangi emisi gas CO2 dan  gas N2O (gas rumah kaca).

Safrullah dan Setiawati dari Universitas Muhamadiyah Palembang dan Universitas Tridinanti Palembang telah melakukan penelitian “Modifikasi dan aplikasi pupuk organik pada budidaya SRI di lahan Pasang Surut Sumatera Selatan”.  Yang dia maksudkan pupuk organik modifikasi adalah pupuk organik limbah pertanian yang dilengkapi dengan mineral pupuk anorganik dan limbah ternak serta mineral alami.

Bahan baku yang digunakan Safrullah untuk membuat pupuk organik modifikasi yakni asam humat dari ekstraksi pupuk organik limbah jerami padi, mineral pupuk anorganik dari pupuk urea, limbah ternak dan mineral alami.

Menurutnya senyawa asam humat berperan dalam peningkatan unsur kimia an-organik basa-basa dan logam berat atau unsur toksisk dalam tanah dan air. Selain itu, asam humat dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganil larut air, mencegah penggerusan tanah, menaikkan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik.

Dengan demikian menurutnya sudah selayaknya pupuk organik yang kaya humus ini menggantikan peranan dari pupuk sintesis dalam menjaga kualitas tanah. Menurut penelitian Marsi et al (2001) formula NPK-Organik yang baik untuk tanaman padi yaitu asam humat dari kompos jerami padi 30 persen dan nisbah 2 urea : 1 DAP : 1 KCl.

Hasil dari penelitian ini cukup memberikan harapan bagi pertanian pangan kedepan. Penggunaan pupuk organik modifikasi dengan takaran 750 kg/ha mampu memberikan pertumbuhan tanaman padi terbaik dan produksi padinya lebih tinggi 2,55 ton/ ha dibanding  penggunaan pupuk an-organik sesuai dosis anjuran.

Teknologi lain adalah hasil rekayasa yang dilakukan Yusminah Hala dari Universitas Negeri Makasar. Dosen UN Makassar Sulsel ini melakukan penelitian tentang “Pengembangan Pupuk Urea Berselaput Nima untuk peningkatan efisiensi penggunaan pupuk dan pengurangan emisi gas rumah kaca”.

Yusminah mengungkapkan untuk pembuatan pupuk urea berselaput nimba (Azadirachta Indica)dilakukan mulai dari penyiapan bahan. Bahan nimba ia peroleh dari PT Intaran Bali yang memproduksi ekstraksi nimba berupa minyak (Neem Oil)) dan ampas nimba (Neem Cake) yang merupakan bahan sampingan saat ekstraksi minyak dari biji nimba.

Pelapisan urea granul dilakukan dengan cara mencelupkan pupuk urea granul pada larutan minyak nimba 1 persen. Tahap berikutnya, pemberian ampas nimba sebanyak 2.5 persen dan 5 persen dari berat urea granul dan homogenasi secara rotasi. Setelah pelapisan dilihat merata, selanjutnya pupuk dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari.

Menurut hasil penelitian Yusminah Hala penggunaan urea granul berselaput nimba itu telah berhasil meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen, menghambat nitrifikasi dan mengurangi  emisi gas CO2 dan gas N2O  atau gas rumah kaca. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: