Oleh: Ahmad Soim | 20 November 2010

Mendisain Ulang Perpupukan Nasional

Setidaknya ada tiga alasan yang mengharuskan penyediaan, teknologi produksi dan distribusi pupuk nasional perlu didisain ulang. Tujuan disain ulang perpupukan nasional ini menurut Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Dr. Sumarjo Gatot Irianto adalah untuk memantapkan ketahanan pangan nasional.

 “Pupuk adalah pemicu dan pengubah pertanian Indonesia kedepan,” tambah Gatot pada Simposium Perpupukan Nasional dengan tema “Strategi Pengembangan Industri Pupuk, Kebijakan Subsidi dan Teknik Aplikasi untuk Menunjang Kemandirian Pangan” yang diselenggarakan Dewan  Pupuk Indonesia (DPI) di Jakarta.

Alasan yang pertama menurut Gatot adalah karena telah terjadi kompetisi di antara produk pupuk produksi dalam negeri dengan produksi  luar negeri. Persaingan terjadi pada tataran formula dan kualitas produk. Di lapangan ditemukan adanya formula pupuk yang bervariasi, stabilitas mutu, keseragaman bentuk dan ukuran pupuk yang berbeda-beda. Harga pupuk pun bervariasi.

Yang kedua adalah bahan baku untuk memproduksi pupuk tunggal maupun pupuk majemuk di Indonesia hingga saat ini masih bergantung pada gas alam yang semakin terbatas dan mahal harganya. “Pupuk tunggal dan majemuk yang mengandung nitrogen (N) membutuhkan bahan baku gas alam yang ketersediaannya semakin terbatas dan tidak bisa diperbaharui,” tambah Gatot.

Padahal lanjut Mantan Kepala Badan Litbang Pertanian Kementan itu terdapat N2 yang melimpah di udara (80 persen) yang hingga kini belum ditemukan teknologi untuk memanfaatkannya secara langsung. “Untuk itu memang diperlukan teknologi tinggi,” tuturnya. Sedangkan untuk produksi pupuk majemuk NPK Gatot pun berpikir akan bisa diarahkan diproduksi secara kimia (chemical blending) berbahan baku amonia cair, bukan lagi gas.

Alasan yang ketiga produk pupuk yang ada saat ini adalah untuk semua tanaman belum spesifik untuk tanaman tertentu. Padahal setiap tanaman memerlukan unsur hara esensial yang berbeda. Setiap tanaman memerlukan unsur hara esensial berupa: hara makro primer, makro sekunder, mikro dan beneficial elemen (Si, Co). “Maka disini, penemuan unsur-unsur hara bermanfaat untuk tanaman sangat diperlukan,” tuturnya.

Dia menyontohkan pupuk untuk tanaman jeruk misalnya, harus bisa dirancang terdapat pupuk khusus untuk tanaman jeruk sehingga dihasilkan jeruk yang manis sekali. Untuk itu lanjutnya, pupuknya tentu bukan hanya pupuk Urea dan SP-36.

Setidaknya Gatot melihat ada empat golongan pupuk yang perlu didisain ulang produknya. Pertama adalah pupuk an-organik. Kondisi sekarang, pupuk an-organik di Indonesia ada dua. Pertama pupuk tunggal: N,P,K. Untuk urea pril tanpa coating. Kondisi produk pupuk seperti ini tidak efisien banyak yang tidak terserap tanaman. Maka pupuk ini perlu didesain produknya sehingga menjadi produk pupuk yang pelepasan haranya terkontrol atau untuk urea prill dicoating dengan silika, asam humat, sulfur, formaldehyde. Sedangkan untuk pupuk majemuk: NP, NK, NPK, produknya simple blanding/ blending secara fisik sehingga bentuknya tidak seragam, mutu tidak stabil, akibatnya kualitas kurang baik. Selain itu pupuk majemuk yang ada formulanya umum. Kondisi produk pupuk mejemuk ini perlu didasin ulang dengan chemical blending menggunakan silika dan mikronutrien ((Co, Cu, ZZn, Mn). Misalnya ada NPK+Si, NPK+Si+mikro, NPK+Si+mikro+zeolit/carrier.

Bila pupuk an-organik bisa didesain seperti itu maka akan bisa menjadi pupuk yang slow releas, efisiensinya meningkat, ada pupuk yang spesifik komoditas, pengelolaan tanah membaik dengan harga pupuk yang sehat.

Kedua, pupuk organik. Menurut Gatot kondisi produk pupuk organik saat ini bentuknya ada yang granul, curah dan cair. Proses produksinya: kualitas bahan bakunya bervariasi dan dengan proses produksi yang sederhana, tidak ada pengkayaan, dan kontrol kualitasnya lemah. Kedepan ia ingin didesain ulang sehingga pupuk organiknya hanya berbentuk curah dan cair, tidak lagi ada yang granul. Proses produksinya: menggunakan teknologi nano, bahan baku mengandung hara tinggi, perlu standar bahan baku, proses produksi memenuhi standar baku SOP, diperkaya mineral (organomineral) dan mikroba, kontrol kualitasnya berstandar tinggi dan diintegrasikan dengan pembenah tanah.

Upaya yang bisa ditempuh untuk memperbaiki kualitas pupuk organik di antaranya adalah menggunakan bahan baku yang berkualitas seperti batubara muda, limbah perikanan, serta ada pengkayaan dengan mineral zeolit, bentonit dan vermikulit.

Ketiga, pupuk hayati. Kondisi produk pupuk hayati saat ini, bentuknya tepung, granul dan cair. Mikroba tunggal, mikroba fungsional kurang proporsional. Proses produksi dengan peralatan dan proses yang sederhana dan kontrol kualitasnya lemah sehingga rawan terkontaminasi. Untuk itu Gatot menginginkan agar produk pupuk hayati bisa didesain ulang dengan proses produksi: berteknologi tinggi dan massal, masa hidup mikrobanya lebih panjang, proses produksinya memenuhi standar SPO, ada pupuk hayati majemuk, dan dengan kontrol kualitas yang tinggi.

Keempat, pupuk cair/foliar. Kondisi produk pupuk cair saat ini jenisnya lebih banyak anorganik, umumnya produk impor, terbatas digunakan untuk: hydroponik, pupuk daun, pupuk akar, lapangan rumput golf, stadion bola dan penggunaan lahan komersial. Kedepan Gatot ingin agar pupuk cari ada yang jenisnya organik dan hayati. Pupuk cair ini bisa digunakan untuk semua komoditas, pengaruhnya terhadap tanaman signifikan sesuai dengan harga pupuk yang cukup mahal. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: