Oleh: Ahmad Soim | 20 November 2010

Ternak Merapi, Lebih Mahal dari Nyawa Manusia

Menteri Pertanian Suswono besama ketua tim penaganan ternak merapi meninjau ternak di lokasi pengungsian

Menteri Pertanian Suswono besama ketua tim penaganan ternak Prof. Ida Tjahajati merapi meninjau ternak di lokasi pengungsian

Kucing-kucingan dengan petugas polisi seringkali dilakukan peternak sapi di lereng gunung Merapi. “Tujuannya agar mereka bisa memberikan pakan sapinya atau mengevakuasi, “ turur Ketua Tim Penanganan Ternak Merapi Prof Ida Tjahajati yang juga guru besar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mereka seperti tidak menghiraukan bahaya Gunung Merapi yang mengancam nyawanya.

 Kondisi psikologis peternak itu menjadi perhatian Menteri Pertanian Suswono. Dalam setiap kali kunjungannya ke lokasi bencana, Suswono berpesan agar peternak lebih mementingkan nyawanya. Sapinya akan diurus oleh Tim Penanganan Ternak Merapi yang dibentuk pemerintah. Yang mati akan diganti, dan yang sakit akan diobati, bila tidak tertolong pun bisa diganti. Sapi-sapi yang masih di daerah rawan bencana dievakuasi oleh tim ini dengan bantuan pihak keamanan, serta disediakan pakannya.

Secara berseloroh Mentan mengatakan harga ternak sapi yang mati akan diganti pemerintah cukup mahal dan lebih mahal dibanding santunan bagi jiwa yang meninggal karena letusan gunung Merapi. 
Pemerintah telah menetapkan harga pembelian untuk anak sapi sebesar Rp5 juta, sapi dara Rp7 juta, sapi bunting Rp9 juta dan sapi laktasi Rp10 juta, sedangkan sapi potong akan dihargai berdasarkan bobot badan saat hidup yaitu Rp22 ribu per kilogram (kg) untuk sapi jantan dan Rp20 ribu per kg untuk sapi betina yang sudah tidak produktif. Sementara santunan kematian untuk manusia karena korban Merapi sebesar Rp 4 juta.
Meski demikian, sebagian besar peternak di gunung Merapi tidak  ingin menjual ternak-ternaknya dan memilih memeliharanya karena selama ini beternak merupakan mata pencaharian utama di antara mereka.
“Peternak memilih untuk memelihara ternak-ternak itu, karena bagi mereka, sapi atau kerbau adalah sumber penghidupan,” kata Menteri Pertanian Suswono di Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Yogyakarta.
 Berdasarkan hasil identifikasi terhadap sapi dan kerbau yang berada di radius bahaya 20 kilometer diketahui terdapat 84.691 ekor, dan yang telah terevakuasi ke 181 lokasi penampungan sebanyak 10.231 ekor serta sapi yang mati di luar penampungan 2.121 ekor.
Dari total ternak yang telah diungsikan tersebut, jumlah permintaan penjualan sapi sebanyak 3.807 ekor. Pemerintah pun tidak ingin memaksa peternak untuk menjual hewan peliharaannya. Sebaliknya, pemerintah akan memberi bantuan pemberian pakan bagi ternak yang telah berada di penampungan.
“Di seluruh penampungan yang ada, telah ada penanggung jawab yang berasal dari penyuluh-penyuluh lapangan. Bahkan peternak yang kesulitan untuk memberikan pakan dapat datang ke penampungan untuk meminta pakan asalkan berada di kawasan rawan bencana,” ujarnya.
Namun bagi peternak yang tetap akan menjual ternaknya, Mentan mengatakan, terdapat dua pola pembelian ternak yaitu menghubungkan peternak dengan pihak swasta yang berkeinginan membeli ternak atau pemerintah yang akan langsung melakukan pembelian. Di pengungsian peternak dan lokasi evakuasi ternak di Wedomartani, peternak telah dihubungkan dengan pihak swasta, sedang di Tlogoadi telah ada pembelian dari pemerintah. Terjunnya pemerintah ikut membeli ternak petani karena pemerintah tidak ingin peternak dirugikan. “Saat awal-awal bencana, satu ekor sapi hanya dibeli pedagang seharga Rp 3-4 juta, alhamdulillah sekarang harga jual sudah normal kembali,” tutur Suswono.
Kerja sama dengan pihak swasta ini juga dimaksudkan agar peternak memperoleh harga pembelian yang lebih baik dari harga pembelian yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Jika harga pembelian dari pihak swasta berada di bawah harga pemerintah, tentunya peternak akan memilih untuk menjualnya ke pemerintah,” katanya.
Pemerintah telah menetapkan harga pembelian untuk anak sapi sebesar Rp5 juta, sapi dara Rp7 juta, sapi bunting Rp9 juta dan sapi laktasi Rp10 juta, sedangkan sapi potong akan dihargai berdasarkan bobot badan saat hidup yaitu Rp22 ribu per kilogram (kg) untuk sapi jantan dan Rp20 ribu per kg untuk sapi betina yang sudah tidak produktif.

Pada kunjungan Mentan sebelumnya, dalam kesempatan dialog dengan Mentan, Agus salah seorang peternak pengungsi korban letusan Merapi menginginkan agar pemerintah juga membantu evakuasi ternak, karena kondisi saat ini serba sulit. Dia juga menanyakan kepada Mentan kondisi sapi yang bisa diganti pemerintah. Mentan mengatakan akan mengganti sapi yang mati, sakit atau dijual sehat.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Budiono juga mengharapkan agar pemerintah membantu penuh proses evakuasi sapi, disamping menjamin penggantian sapi yang mati atau sakit, sehingga peternak bisa merasa nyaman.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Prabowo R Caturroso menambahkan sapi yang mati akan diverifikasi, sedangkan sapi yang sakit akan diobati terlebih dahulu. “Baru boleh dipotong untuk suatu keperluan,” tuturnya.
Pemerintah menganggarkan dana untuk pembelian ternak korban bencana Merapi sebesar Rp 100 miliar. Uang  pembelian ternak itu akan langsung ditransfer ke peternak. Kementan akan buatkan rekeningnya di bank. Uang Rp 100 miliar ini diharapkan juga bisa untuk membantu penyediaan pakan di lokasi penampungan.
Apabila dana tersebut tidak mencukupi lanjut Suswono Kementerian Pertanian dapat memberikan bantuan dana. Sedangkan untuk  penggantian untuk ternak yang mati akibat letusan Gunung Merapi akan dilakukan saat tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pada minggu ke III November, sedikitnya terdapat 10.361 ekor sapi didaftarkan pengungsi bencana Merapi untuk dijual kepada pemerintah. Pada saat itu pemerintah telah membeli 250 ekor sapi di Lapangan Getas, Tlogoadi, Mlati, Sleman,Yogyakarta. Sedangkan 46 peternak mengaku masih berkeinginan untuk memelihara sapi mereka. Untuk tahap awal pemerintah telah  menyiapkan dana sekitar Rp 2 miliar. “Namun pemerintah tidak menutup kemungkinan bila ada pihak swasta yang mau membeli,” ungkapnya.
 Mentan juga meninjau pengungsian ternak di utara lapangan Pokoh Wedomartani, Ngemplak dan memberikan bantuan pakan ternak. Menurunya dari wawancara terhadap sejumlah peternak sebagian besar masih ingin  memelihara ternak mereka dan berharap bantuan pakannya disuplai pemerintah. Ahmad Soim


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: