Oleh: Ahmad Soim | 5 Februari 2011

“Tinjau Ulang Kebijakan Perdagangan Benih”

 

Mieke Suswono Melepas Ekspor Benih Sayuran

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Hari Priyono mengatakan pemerintah akan melakukan peninjauan ulang kebijakan distribusi dan perdagangan benih. Kebijakan ini menurut Hari Priyono diperlukan supaya industri di dalam negeri bisa mandiri. Berikut ini petikan wawancara Sinar Tani dengan Sekjen Kementan dalam Seminar Nasional PVT ke-5 di Surabaya.

Kementan akan meninjau ulang kebijakan distribusi dan perdagangan benih, apa yang diinginkan?

Tema dari seminar kan bagaimana membangun kemandirian industri benih nasional, yakni bagaimana agar produksi benih kita bisa meningkat, tetapi kalau pondasi produksi terutama adalah industri perbenihan itu berada di luar negeri, maka itu adalah kemandirian pangan yang semu. Oleh sebab itu apabila kita ingin membangun swasembada berkelanjutan maka tidak ada pilihan lain pondasi industri benih kita harus dibangun di dalam negeri.

Kalau kita ingin membangun kemandirian perbenihan nasional, maka orang yang mau mengembangkan varietas di Indonesia, perlu  dua hal, pertama harus dilindungi. Yang kedua diberikan insentif. Insentif pemerintah tidak harus dalam bentuk uang atau materi tetapi ada beberapa kebijakan yang menguntungkan kepada mereka apabila membangun industri di dalam negeri. 

Semangat untuk membangun industri tidak akan terwujud apabila diganggu oleh importasi perbenihan yang sangat liberal, bagi sebuah industri yang melakukan investasi   dia sudah investasi, benihnya hasil penelitian yang mulai diproduksi, tetapi sebelum itu tiba-tiba ada impor benih yang jauh lebih murah yang jauh lebih masal yang diimnpor oleh pedagang bukan produsen.

Kebijakan yang baru akan seperti apa?

Instrumen yang kita lakukan pertama, harus seleksi membatasi importasi benih, kalau itu bisa diproduksi oleh industri nasional kenapa kita harus impor banyak-banyak. Bahkan dalam PP perbenihan sudah sangat jelas, bahwa benih bisa diimpor itu dalam rangka introduksi. Kalau introduksi, pertama bisa mengimpor benih untuk riset atau untuk benih yang memang belum diproduksi di Indonesia, tetapi kalau Indonesia sudah bisa menghasilkan benih padi hibrida, pertanyaan kita  apakah benih padi hibrida masih kita impor, karena bagaimanapun padi hibrida yang kita impor itu adaptasinya kepada lingkungan dan faktor sumberdaya yang mempengaruhi produktivitas sangat berpengaruh, karena bagaimanapun benih yang dihasilkan di luar berbeda iklim dengan di Indonesia. Sehingga kemampuan adaptasinya pasti lebih rendah dibanding yang dihasilkan di sini.

Kita kaji mulai dengan daftar list komoditi, komoditi hortikultura itu berbeda beda, komoditi tanaman pangan juga berbeda beda. Jagung kita sudah maju, kacang tanah belum maju, komoditi sayuran harus kita lihat paprika, bawang bagaimana? Tidak bisa satu kebijakan berlaku general untuk semua komoditi. Tenggang waktu untuk membangun industri yang untuk ini bisa dua tahun, tapi bisa jadi yang tenggang waktu  2-3 tahun tidak cukup untuk sayuran. Sekarang di tanaman pangan sudah dibatasi bahwa untuk satu introduksi dibatasi 3 tahun, setelah itu tidak bisa masuk lagi. Tetapi untuk sayuran kita harus berhitung kembali, karena risetnya perlu waktu yang lama.

Sistem PVT ini juga dijadikan insentif bagi industri benih?

Secara umum di Indoensia, peneliti belum mendapat tempat yang ideal. PVT mengapresiasi para peneliti. Para peneliti bukan hanya semata berharap pada materi, melainkan mereka juga perlu kebanggaan. Terkadang mereka memang tak hanya mengejar materi. Kalau mereka dapat penghargaan dan sertifikat PVT maka akan mendapatkan nilai yang tinggi dan cepat dapat professor riset. Som


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: