Pemilikan Tanah Menurut Islam

Aturan Islam tidak membatasi pemilikan lahan berdasarkan luasnya, melainkan berdasarkan kesanggupan dan kemampuan seseorang untuk memproduktifkannya.

Umar bin Khaththab berkata: “Bagi orang yang membiarkan tanahnya, maka tidak ada hak baginya, setelah dibiarkan selama tiga tahun”.

Umar menyatakan hal itu dan melaksanakan tindakan semacam itu, para sahabat Rasulullah melihat dan mendengar pernyataan dan tindakan Umar, namun tidak satupun di antara mereka yang mengingkari, maka dalam hal ini adalah telah terjadi ijma’ sahabat tentang pengaturan pemilikan tanah seperti yang dinyatakan Umar.

Sedangkan cara pemilikan tanah menurut aturan Islam ada beberapa: 

1) pemberian negara yakni di antaranya berasal dari tanah yang telah ditelantarkan (tidak diproduktifkan) oleh pemiliknya selama tiga tahun berturut-turut maka akan diambil negara dan diberikan kepada yang memerlukan.

2) menghidupkan tanah mati. Nabi Muhammad bersabda: “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah (mati yang telah ditelantarkan) tersebut adalah miliknya.” HR Imam Bukhori dari Umar bin Khaththab. Mungkin saja tanah mati ini adalah tanah yang belum ada pemiliknya, atau tanah yang telah ditelantarkan pemiliknya selama 3 tahun berturut-turut.

3) pembelian

4) waris/ pemberian/hibah

  Meskipun seseorang yang sangat kaya memungkinkan membeli tanah yang teramat luas, tidaklah mengapa asal diproduktifkan. Dengan produktifnya tanah tersebut maka akan bergeraklah ekonomi, karena di situ ada investasi, ada lowongan pekerjaan, ada bisnis dan perdagangan, dan ada zakat yang harus dibayar.

Selain itu, negara bisa saja memberikan tanah yang dimilikinya atau tanah terlantar kepada mereka yang tidak punya lahan atau punya lahan namun sempit, sehingga kepemilikannya menjadi luas kembali.

Waris dalam Islam memang bisa menyebabkan fragmentasi lahan (penyempitan pemilikan lahan), namun bila pemilikan lahan yang sempit itu menyebabkan mereka tidak mendapatkan keuntungan dari usaha taninya, maka mereka akan menjual tanahnya itu, sehingga fragmentasi lahan bisa dicegah. Pemerintah bisa memfasilitasi hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: