Status Tanah dan Zakatnya

Ada dua jenis status tanah dalam pandangan Islam bila dikaitkan dengan proses penduduknya masuk Islam.

Pertama, tanah khorojiyah yakni tanah-tanah dalam wilayah/ negara yang penduduknya masuk Islam karena ada perjanjian damai (setelah terjadi perang). Ada dua kemungkinan kesepakatan damai di sini yakni: 1) disepakati tanah tersebut menjadi tanah kaum muslimin (dikelola negara/ baitul mal/semacam departemen keuangan) dan penduduknya tetap tinggal di situ dengan membayar khoroj sebagai kompensasi; 2) disepakati tanah tersebut masih menjadi milik penduduk setempat (kaum kuffar), dengan membayar khoroj tertentu sebagai jizyah.  Khoroj ini akan gugur kalau mereka masuk Islam atau menjual kepada Muslim.

Kedua, tanah  usyriyah adalah tanah yang penduduknya sudah masuk Islam tanpa peperangan, seperti Indonesia dan Jazirah Arab, artinya tanah tersebut milik penduduk setempat. Pemiliknya diwajibkan membayar usyur.

 Tanah-tanah khorojiyah bila dipindah-tangankan baik oleh negara maupun antar individu maka yang dimiliki adalah hanya hak gunanya, sementara kepemilikannya tetap oleh baitul mal.

Sedangkan tanah usyriyah bila dipindah-tangankan maka yang dimiliki adalah lahan sekaligus kegunaannya.

Perbedaan antara usyur dan khoroj adalah, kalau usyur adalah pungutan yang diambil oleh negara dari pengelola tanah sebesar 1/10 dari hasil panen (bila tanamannya diari dengan air tadah hujan dan pengairan alami) dan diambil 1/20 dari hasil panen apabila tanamannya diairi oleh orang atau yang lain dengan pengairan teknis (buatan).

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir yang mengatakan Nabi SAW Bersabda:

“”(tanaman) apa saja yang diairi oleh bengawan dan hujan (harus diambil) 1/10 (dari hasil panennya). Dan apa saja yang diairi dengan kincir air, maka (harus diambil) 1/20 (dari hasil panennya).

Usyur tersebut dianggap zakat, diambil setiap kali panen dan diserahkan ke baitul mal, serta tidak dibagikan kecuali kepada 8 ashnaf (kelompok) yang disebutkan dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat 60.

Sedangkan besarnya khoroj ditentukan oleh negara disesuaikan dengan perkiraan penghasilan tanah. Besarnya tidak merugikan (menzhalimi) pemiliknya dan baitul mal. Khoroj diambil setiap satu tahun sekali. Hasil khoroj disetor ke baitul mal pada pos selain zakat, distribusinya sesuai dengan kebijakan negara Khilafah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: