SJAMSOE’OED SADJAD: Begawan Ilmu dan Teknologi Benih Indonesia

 
 Lebih dari 30 tahun, Sjamsoe’oed Sadjad menggeluti ilmu dan teknologi benih di Indonesia.  Berbagai  konsepsi dan teknologi baru tentang benih dan berbeda dengan yang dikembangkan di Eropa dan Amerika telah ia hasilkan. Keahlian pria kelahiran Madiun 24 Juni 1931 itu, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2010,  mendapat Penghargaan Achmad Bakrie untuk Negeri tahun 2010  di bidang Teknologi. 

 

Sjamsoe'oed Sadjad memajang Penghargaan Achmad Bakrie 2010 di Ruang Kerja Pribadinya

Sjamsoe'oed Sadjad memajang Penghargaan Achmad Bakrie 2010 di Ruang Kerja Pribadinya

Sjamsoe'oed Sadjad dan penghargaan Achmad Bakrie untuk Negeri Tahun 2010 bidang Teknologi

Sjamsoe'oed Sadjad dan penghargaan Achmad Bakrie untuk Negeri Tahun 2010 bidang Teknologi

“Benih adalah hal baru di Indonesia,” kata Sjamsoe’oed Sadjad ketika baru masuk menjadi staf dosen pertanian di Universitas Indonesia tahun 1957 (berubah namanya menjadi Institut Pertanian Bogor pada tahun 1963). Sepulang dari kuliah teknologi benih di Amerika Serikat tahun 1964, pria yang sudah menjadi Profesor ini sangat ingin menyebarluaskan ilmu ke masyarakat luas.

 Alasannya sederhana, ia ingin agar Indoensia bisa maju seperti Amerika dan saat itu ilmu teknologi benih di Amerika pun masih baru. Mulailah ia menulis tentang beragam masalah dan teknologi benih di media massa.

“Saya yakin teknologi harus dikembangkan sehinga didapatkan benih yang baik dan benar. Arahnya, benih adalah komersial, diproses secara industrial, sehingga harus ada jaminan mutu,” kata Sjamsoe’oed Sadjad kepada Sinar Tani di rumah kediamannya komplek perumahan dosen IPBBogor.

Tak hanya itu, Sjamsoe’oed Sadjad sangat sadar bahwa teknologi yang dihasilkan baru  bisa diterapkan secara meluas di kalangan petani bila ada dukungan kebijakan dari pemerintah. “Maka saya perjuangkan juga untuk legalisasi,” tambahnya.

Pikiran-pikiran yang demikian itulah yang menurut Sjamsoe’oed Sadjad, yang membuat dia harus berpikiran luas, yakni: tak hanya berpikir tentang teknik-teknik perbenihan saja tapi juga mengembangkan konsepsi-konsepsinya.

“Dan dalam pengujian benih, saya konsen untuk wilayah tropis,” tuturnya. Latar belakangnya, teori benih dan analisa benih  mulanya berasal dari Eropa.  Perdagangan benih, gandum pun mengalir dari Eropa ke AS. AS perlu belajar lebih banyak tentang jaminan mutu dari Eropa, tetapi perkembangannya di AS lebih maju dari segi science dan teknologi.  

Indonesia menurutnya jauh tertinggal dibanding Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu yang menjadi pemikiran Sjamsoe’oed Sadjad adalah ada perbedaan komditi antara Eropa, AS dan Indonesia. “Mereka komoditinya adalah subtropis, kita komoditas tropis. Untuk komoditas tropis tidak banyak dipikirkan, sehingga saya harus punya pemikiran yang berani,” jelasnya.

 Menurutnya, ragam komoditi Indonesia begitu besar dan begitu banyak, petaninya juga tidak setaraf kemajuannya dengan Negara-negara Eropa dan AS. Jadi, serba tidak menentu, iklimnya juga tidak menentu, sehingga saya harus berani membawa ilmu dan teknologi benih ini berbeda dengan mereka.

Berpijak dari pertimbangan-pertimbangan itulah, akhirnya Sjamsoe’oed Sadjad melahirkan sebuah konsepsi pengembangan teknologi benih vigor dan vigor benih. “Saya bisa menghasilkan benih vigor, teknologinya, sehingga berkembang sekarang di masyarakat,” ungkapnya.

Benih vigor adalah benih yang memiliki vigor, yakni daya hidup yang berdegup di atas rata-rata. Benih yang mampu tumbuh normal, meski kondisi alam tidak optimum, itulah benih yang memiliki vigor. Keadaan alam tidaklah selalu optimum; cuaca bisa juga tak ramah, tanah yang tak subur, dan pengairan yang tak selalu menunjang. Dalam kondisi yang demikian, sekadar benih yang punya potensi hidup normal saja,  tidaklah cukup.

Benih vigor dan vigor benih itu menjadi pusat dari seluruh kerja ilmiah Sadjad yang menyebar dan berkelindan di bidang pengembangan ilmu benih dan teknologi benih sekaligus. Di bidang ilmu benih Sadjad memberi sumbangan teoretis berupa parameter pengujian vigor benih, dan kuantifikasi metabolisme benih.

Parameter pengujian vigor benih itu bergerak dari yang komparatif ke yang simulatif, untuk mensimulasi vigor benih yang dikomersialkan. Menurut Sajad pengujian mutu benih  di Eropa dan AS adalah untuk daerah subtropics mereka melakukannya secara komparatif sehingga semuanya harus standar, harus baku. Untuk membedakan satu dengan yang lainnya, mereka punya alat yang baku dan kondisi baku, parameter baku jadi dibandingkan serba baku. 

“Saya memberanikan diri untuk berfikir berbeda cara pengujian mutu benih, Indonesia ini pengujian mutu benihnya malah simulatif,” katanya. Alasannya karena petani yang membeli benih harus menyakini benih yang dibeli adalah baik. Kalau misalnya petani beli benih hari ini dan nanamnya masih dua atau tiga bulan yang akan datang, petani harus meyakini bahwa dalam 3 bulan harus tetap baik.

Selain itu, alam Indonesia bukan optimum semuanya, tidak bisa diperhitungkan dengan standar, tetapi harus vigor bisa tumbuh baik dalam kondisi optimum maupun suboptimum. Karena itu semua simulatif, baik benih disimpan oleh petani atau pedagang. Perilaku petani dan pedagang di Indonesia beragam. Ada petani yang beli benih langsung ditanam. Ada pedagang waktu beli benih karungan masih bagus, namun ada yang beli hanya 5 kg, misalnya dibuka itu sudah dalam kondisi terbuka mutunya bisa berbeda. “Karena itu hanya benih yang vigor saja yang tahan. Dengan demikian analisa saya dari komulatif menjadi simulatif, factor waktu masuk dalam analisanya. Benih disimpan, tahannya berapa lama, waktu,” kata Sadjad.

Beda kedua pengujian itu adalah, kalau komparatif bisa dibandingkan dalam satu waktu dengan alat alat, parameter, metoda standar, di waktu yang sama dibandingkan bahwa lot ini lebih baik dari lot yang lain. Tetapi dalam simulasi, itu waktu, sehingga viabilitas benih tidak digambar dalam satu titik, tetapi satu garis. “Itu rupa-rupanya pemikiran pemikiran yang demikian yang sudah lama, akkhirnya kesimpulan dari juri Freedom Institute memberikan penghargaan Achmad Bakrie 2010 kepada saya.

Untuk bidang kuantifikasi metabolisme benih, secara khusus ia mengembangkan Konsepsi Steinbauer–Sadjad sebagai landasan pengembangan Matematika Benih di Indonesia.

Di bidang teknologi benih Sadajd memberi sumbangan perangkat keras berwujud berbagai mesin instrumentasi dan laboratorium produksi, penyimpanan dan analisa benih, dan sumbangan perangkat lunak berupa peta kesejajaran perkembangan teknologi dan usahatani untuk mengangkat kehidupan petani dan mengukuhkan ketahanan pangan Indonesia.

Berbagai mesin instrumentasi benih yang ia kembangkan, dengan sengaja tak ia patenkan, agar bisa ditiru dan dimanfaatkan langsung oleh semua pihak yang berkepentingan. Mesin ini juga sangat membantu pengembangan ilmu benih yang dirintisnya.

 Berbeda dengan Goenawan Muhammad yang mengembalikan penghargaan ini, Sjamsoe’oed Sadjad menerima penghargaan ini. “Saya punya pendirian, saya dihargai orang saya terima, murni sebagai ilmu saya dihargai. Cuma saya tidak bersedia menerima kalau ada hadiah, saya tidak peduli jumlahnya berapa, saya tidak bersedia menerima hadiahnya. Meskipun saya bisa tidak menolak penghargaannya,” jelasnya.

Alasan Sadjad bukan politis dan bukan apa apa, melainkan karena prestasi saya  mengenai ilmu dan teknologi benih ini lanjutnya juga ada ada peran dari mahasiswa S1, S2, S3 baik yang saya bimbing atau tidak saya bimbing, yang saya bimbing artinya penelitiannya saya arahkan dalam S1 untuk menyusun skripsinya, S2 untuk menyusun tesisnya, doctor menyusun desertasinya, itu semua jumlahnya banyak sekali, S1-nya 80, S2-nya 18, S3-nya 10 selama puluhan tahun, paling tidak selama 30 tahun saya membingbing mereka. Itu semua berperan dalam mengembangkan ilmu dan teknologi benih. Saya harus consider, tidak saya lupakan itu semua, karena itu saya merasa tidak berhak untuk menerima hadiahnya, meskipun penghargaannya saya terima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: